Hari Senin pagi (1/12/2025) di Kabupaten Tapanuli Tengah, suasana terasa berbeda. Presiden Prabowo Subianto tiba di Lapangan GOR Pandan sekitar pukul 08.30 WIB, dan yang menyambutnya langsung adalah Kapolri Jenderal Listyo Sigit. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas, melainkan untuk melihat dari dekat dampak banjir dan longsor yang melanda wilayah itu.
Cuaca pagi itu cukup cerah, seolah memberi ruang bagi proses peninjauan. Kapolri kemudian mendampingi Presiden menuju dapur umum yang didirikan Polri. Di sana, Prabowo tak hanya melihat. Ia terlibat percakapan langsung dengan para petugas yang sedang sibuk memasak untuk para korban.
Setelah dari dapur, rombongan bergerak menuju posko pengungsian. Di lokasi ini, kepedulian terhadap warga yang kehilangan tempat tinggal menjadi fokus utama.
Tak sendirian, Prabowo hadir dengan sejumlah pejabat tinggi. Tampak hadir Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, dan Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu. Kehadiran mereka menunjukkan betapa seriusnya pemerintah menangani bencana ini.
Usai berkeliling, momentum pun bergeser. Kapolri secara simbolis menyerahkan bantuan "Polri untuk masyarakat". Bantuan itu tak sedikit terdiri dari tujuh truk yang penuh berisi makanan, pakaian, dan berbagai kebutuhan sehari-hari yang sangat dibutuhkan.
Sayangnya, di balik aksi tanggap darurat itu, data korban justru menghadirkan gambaran yang suram. Menurut catatan terbaru, bencana ini telah merenggut 66 jiwa. Korban luka mencapai 508 orang, sementara 104 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Rinciannya cukup memilukan. Di Kecamatan Pandan, 20 orang meninggal dan 30 lainnya hilang. Sementara di Tukka, angka kematian bahkan lebih tinggi: 26 orang. Badiri mencatat 7 korban jiwa, disusul Barus dengan 3 orang, Barus Utara 2 orang, dan Sitahuis 15 orang. Kecamatan Sorkam Barat hanya mencatat satu orang luka.
Dampak sosialnya pun luar biasa. Sebanyak 1.872 warga terpaksa mengungsi. Mereka tersebar di berbagai lokasi. Gedung Olahraga Tapanuli Tengah menjadi tempat penampungan terbesar, menampung 1.084 pengungsi dengan fasilitas yang relatif lengkap mulai dari kamar mandi, tangki air, dapur lapangan, hingga posko medis.
Selain itu, warga juga mengungsi di rumah-rumah penduduk dan basecamp. Misalnya di Rumah Umak Nuardi Simbolon menampung 78 orang, sementara Rumah Bapak Videl Waruwu menampung 124 pengungsi. Bahkan, ada 15 orang yang terpaksa tinggal di dalam mobil mereka.
Kerusakan infrastruktur juga tak kalah parah. Polisi mencatat 9 rumah dengan kerusakan sedang di Kecamatan Barus. Yang lebih memprihatinkan, 30 sekolah mengalami rusak berat. Rinciannya: Tukka paling parah dengan 14 sekolah, disusul Lumut (8 sekolah), Sukabangun (4 sekolah), Badiri (2 sekolah), serta Pandan dan Tapian Nauli masing-masing 1 sekolah.
Sebagai tambahan, akses transportasi masih sangat terhambat. Enam ruas jalan utama masih terputus total, termasuk jalur Sibolga-Padang Sidempuan dan Sibolga-Tarutung. Jalan Sibolga-Manduamas, Fransiskus, Tukka-Saurmanggita, serta Hutabalang-Pagaranhonas juga belum bisa dilalui. Kondisi ini jelas mempersulit distribusi bantuan dan proses evakuasi.
Semua data ini menggambarkan satu hal: butuh waktu dan upaya ekstra untuk memulihkan Tapanuli Tengah. Bantuan sudah datang, tapi jalan menuju pemulihan masih panjang.
Artikel Terkait
Mantan Penyidik KPK Sambut Baik Pembentukan Satgas Anti Penyelundupan
Polsek Sumobito Gagalkan Upaya Pencurian Besi Rel di Stasiun Curahmalang, Oknum KAI Diduga Terlibat
Rating Indonesia Dipertahankan S&P, Emas Dunia Menguat, dan Laporan Pajak Tembus 11,22 Juta
21 RT di Jakarta Terendam Banjir Akibat Luapan Kali Ciliwung