Belakangan ini, istilah islah ramai lagi diperbincangkan di kalangan Nahdlatul Ulama. Ia disebut-sebut sebagai jawaban atas pelbagai persoalan internal organisasi. Mulai dari gesekan di tubuh struktural, tarik-ulur kepentingan politik, sampai pada krisis keteladanan yang melanda sebagian elite.
Tapi, persoalan mendasarnya bukan cuma soal perlu atau tidaknya islah. Yang lebih krusial justru ini: sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan islah itu sendiri?
Kalau maknanya tak jelas, islah bisa dengan mudah terperosok jadi sekadar jargon politik. Alat untuk mengukuhkan kekuasaan. Atau, ya, cuma seruan normatif yang tak punya dampak nyata di lapangan.
Makna Islah: Melihat ke Akar
Secara bahasa, Iṣlāḥ berasal dari akar kata ṣhad, lam, ḥa. Intinya tentang memperbaiki, mendamaikan, mengembalikan sesuatu pada kondisi yang seharusnya. Dalam Al-Qur'an, istilah ini punya bobot yang tegas, bukan sekadar hiasan kata.
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka, kecuali bisikan orang yang menyuruh kepada sedekah, kebaikan, atau ishlah di antara manusia.” (QS. an-Nisā’ [4]: 114)
Di sini, iṣlāḥ jelas berkait dengan perbaikan yang struktural dan moral. Bukan kompromi yang pragmatis. Bahkan dalam konteks konflik sekalipun, islah menuntut keadilan bukan perdamaian semu yang hanya menutupi luka. Artinya, islah bukanlah sinonim untuk "diam demi ketenangan". Justru sebaliknya, ia butuh keberanian untuk membenahi yang bengkok.
Nah, dalam khazanah ulama klasik, iṣlāḥ sering dipadankan dengan tajdīd atau pembaruan. Prinsipnya: menjaga tradisi lama yang masih baik, sambil mengambil hal baru yang lebih maslahat. Jadi, islah itu bukan pembongkaran total. Tapi juga bukan pembiaran atas kerusakan yang ada.
Islah dalam Dunia Organisasi
Lalu, bagaimana memaknainya dalam konteks organisasi seperti NU? Di sini, islah menuntut lebih dari sekadar ajakan berangkulan. Ia harus dimaknai sebagai upaya perbaikan struktural dan mekanisme kelembagaan. Bukan cuma upaya menutupi konflik biar citra organisasi tetap kinclong.
Melihat konflik internal di tubuh PBNU yang sempat memanas, islah memang jadi kata kunci. Berbagai elemen, dari Rais Aam sampai Ketua Umum, membuka ruang dialog untuk mencegah perpecahan. Tujuannya jelas: menjaga ukhuwah jam’iyyah.
Memang, sejak awal berdirinya, NU sudah punya semangat islah yang mengakar. Organisasi ini lahir sebagai respons terhadap kolonialisme, dengan niat kuat memperbaiki keadaan umat. Caranya? Lewat pendidikan pesantren, dakwah, dan penguatan tradisi Islam yang moderat. Inklusif.
Dalam arti ini, NU sejak dulu memang berfungsi sebagai jam’iyyah iṣlāḥ wa taqwiyah organisasi yang tegak di atas prinsip perbaikan dan penguatan umat.
Sebagai bagian dari ahlus sunnah wal jama’ah, NU tak pernah menutup diri dari perubahan. Selama hal baru itu membawa maslahat lebih besar bagi umat, ia akan dipertimbangkan. Orientasi ini selaras dengan konsep maqāṣid al-syarī‘ah, yang menempatkan kemaslahatan sebagai poros.
Dua Sisi: Moral dan Struktur
Perlu diingat, seruan islah juga punya dimensi moral yang kuat. Ia bukan sekadar langkah administratif belaka. Lebih dari itu, ia adalah nasihat moral dari para sesepuh sebuah warisan tradisi keulamaan NU yang tak ternilai.
Dimensi moral ini mengingatkan agar penyelesaian masalah dilakukan dengan hikmah, adab, dan akhlak Islami. Jadi, islah di NU bukan cuma rekonsiliasi pragmatis ala politik. Ia adalah proses tausiyah yang beradab.
Singkatnya, islah bukan kata kosong. Bukan mantra yang diulang-ulang untuk menciptakan kedamaian semu. Ia adalah agenda ganda: moral dan struktural. Ia menuntut aksi nyata untuk membenahi kelembagaan dan sekaligus menguatkan komitmen pada prinsip Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah fondasi tempat NU berdiri.
Jika dijalankan dengan benar, berlandaskan nilai agama, aturan organisasi, dan kemaslahatan umat, konflik internal justru bisa jadi momentum berharga. Saat untuk tadabbur, evaluasi kelembagaan, dan penguatan kembali arah organisasi ke depan.
Artikel Terkait
Michael Carrick Ubah Manchester United Jadi Ancaman Nyata di Liga Inggris
Gadis 6 Tahun WNI Tewas Tertabrak Mobil di Chinatown Singapura
PKL Makassar Cat Lapak Kuning, Pemkot Tegaskan Itu Tetap Pelanggaran
Megawati Terima Doktor Kehormatan di Arab Saudi, Tekankan Pemberdayaan Perempuan Kunci Kemajuan Negara