Prabowo Tegaskan Siap Berkorban, Tak Peduli Ditertawakan

- Rabu, 24 Desember 2025 | 17:06 WIB
Prabowo Tegaskan Siap Berkorban, Tak Peduli Ditertawakan
Prabowo: Tak Peduli Ditertawakan, Siap Mati untuk Rakyat

Presiden Prabowo Subianto tahu betul. Saat dia bicara soal kekuatan asing yang berupaya memecah-belah bangsa, tak sedikit yang menertawakannya. Tapi, dia mengaku, hal itu sama sekali tak digubrisnya.

Baginya, mandat yang diterima dari rakyat Indonesia adalah segalanya. Karena itulah, di hadapan publik, Prabowo menegaskan kesiapannya berkorban hingga titik darah penghabisan untuk bangsa ini.

"Kalau saya bicara kekuatan asing, saya diketawain, saya tidak peduli," ujarnya dengan nada tegas.

"Saya dipilih, saya dilantik rakyat Indonesia, saya akan mati untuk rakyat Indonesia."

Pernyataan itu dia sampaikan dalam acara penyerahan dana Rp 6,6 triliun dari Satgas PKH di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (24/12). Suasana saat itu terasa khidmat, penuh dengan pesan kebangsaan.

"Bagi saya mati untuk rakyat, kehormatan untuk saya," tambahnya, menutup pernyataan yang berhasil menyita perhatian.

Menurut Prabowo, negara itu ibarat tubuh manusia. Anggaran negara adalah darahnya. Nah, kalau ada kebocoran terus-menerus, ya sama saja dengan tubuh yang terus kehilangan darah. Akhirnya kolaps.

"Negara sama. Di ujungnya kekayaan kita bocor, dirampok, dicuri," jelasnya. Dia menyebut praktik seperti laporan palsu, under invoicing, hingga penyogokan pejabat sebagai bagian dari 'kebocoran' itu.

"Penyelundupan ke luar dan ke dalam, bagaimana negara bisa bertahan. Ini yang dikehendaki oleh beberapa kekuatan," tutur Prabowo, merujuk pada pihak-pihak yang ingin melihat Indonesia lemah.

Acara itu sendiri memang bukan sekadar seremoni biasa. Satgas PKH menyerahkan uang Rp 6,6 triliun ke negara. Dana sebesar itu adalah hasil dari penertiban kawasan hutan yang disalahgunakan.

Hingga saat ini, kerja Satgas PKH terhitung cukup signifikan. Mereka sudah berhasil menertibkan kawasan hutan seluas 4 juta hektare. Angka yang tidak main-main, menunjukkan betapa seriusnya upaya pengembalian aset negara ini.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar