Nah, kalau melihat definisi itu, Euromaidan sulit disebut kudeta. Gerakan ini justru datang dari luar kekuasaan, dari rakyat di jalanan. Tidak ada pejabat tinggi atau jenderal militer yang memimpin atau mendalanginya. Malah, aparat keamanan negara-lah yang digunakan Yanukovych untuk mencoba membungkam suara mereka.
Memang, pihak yang menyebut ini kudeta berargumen bahwa demonstran juga melakukan kekerasan. Mereka menuding ada unsur provokasi dari kelompok garis keras. Tapi, menurut sejumlah saksi dan laporan di lapangan, eskalasi kekerasan justru dipicu oleh tindakan represif aparat. Aksi damai yang semula bisa diredam dengan dialog, justru membesar jadi gelombang amuk massa karena ditanggapi dengan pentungan dan peluru.
Warisan yang Belum Usai
Perdebatan tentang hakikat Euromaidan hingga hari ini belum juga reda. Masing-masing pihak memegang teguh narasinya. Yang satu melihatnya sebagai puncak aspirasi demokratis, yang lain menilainya sebagai konspirasi kotor yang memicu kekacauan.
Terlepas dari itu semua, dampaknya nyata dan terasa hingga sekarang. Euromaidan benar-benar membalikkan peta politik tidak hanya di Ukraina, tapi di seluruh Eropa. Setelah Yanukovych kabur ke Rusia, situasi berubah drastis. Rusia merespons dengan menguasai Krimea dan mendukung pemberontakan di wilayah timur Ukraina. Ketegangan yang dipicu di lapangan Maidan itu akhirnya memuncak menjadi sebuah tragedi besar: invasi penuh Rusia pada 2022. Konflik berdarah yang kemudian menjadi bencana kemanusiaan terburuk di benua Eropa sejak Perang Dunia kedua.
Artikel Terkait
Jokowi: Makna Lebaran adalah Kesabaran dan Saling Memaafkan
Tiran Group Gelar Salat Id dan Santunan di Makassar, Pererat Kebersamaan
Mentan Amran Rayakan Idulfitri dan Dengarkan Aspirasi Warga di Kampung Halaman Bone
Menag Ajak Umat Islam Perkuat Empati dan Kepedulian Sosial di Idulfitri