Di tengah debu dan kenangan akan kehancuran, Gaza justru merayakan cinta. Sekitar dua ratus pasangan tepatnya 203 pasangan mengikrarkan janji suci mereka pada 18 Desember lalu. Upacara massal yang mengharukan ini tak mungkin terwujud tanpa sokongan dari sebuah lembaga kemanusiaan asal Turki.
Menurut sejumlah saksi, suasana di lokasi terasa sangat berbeda. Ada tawa, sorak-sorai, dan haru yang menyelimuti wilayah Al-Zawaida, di jantung Gaza. Acara ini digagas oleh Yayasan Ribat dari Turki, yang dengan gigih ingin menghadirkan secercah cahaya di tengah gelapnya konflik.
Slogannya pun menyentuh: "Kami Mencintai Kehidupan Meskipun Ada Genosida". Sebuah pernyataan yang blak-blakan, sekaligus jadi simbol ketahanan warga Palestina. Ini bukan sekadar pesta pernikahan biasa. Tujuannya lebih dalam: meringankan beban ekonomi para pemuda yang ingin membangun rumah tangga, tapi terhambat oleh perang dan kemiskinan yang mencekik.
Bayangkan saja, sebagian besar pengantin yang hadir adalah mereka yang kehilangan segalanya. Ada yang rumahnya rata dengan tanah, ada pula yang ditinggal pergi orang-orang tercinta selama peperangan. Namun begitu, di hari itu, mereka memilih untuk merayakan kehidupan.
Ini bukan peristiwa satu-satunya, sebenarnya. Baru beberapa pekan sebelumnya, tepatnya 2 Desember 2025, Khan Younis juga menjadi saksi pernikahan massal serupa untuk 54 pasangan. Sebuah pola yang menunjukkan semangat untuk terus hidup tak pernah padam.
Momen-momen seperti ini, meski singkat, adalah penawar luka. Mereka mengingatkan kita bahwa di balik berita-berita duka, manusia di Gaza tetap berjuang untuk hal-hal yang paling manusiawi: mencintai, berkeluarga, dan berharap.
Artikel Terkait
Kapal Kargo Tabrak Perahu Nelayan di Perairan Kalianda, Satu Orang Hilang
Aston Villa Wajib Menang di Kandang demi Balas Defisit atas Nottingham Forest di Semifinal Liga Europa
Korban Curanmor Diteriaki Begal saat Minta Tolong, Pelaku Mengaku Polisi
Freiburg vs Braga: Duel Sengit Perebutan Tiket Final Europa League di Europa-Park Stadion