Prabowo Santap Nasi Goreng dan Janjikan Huntara Usai Dengar Tangis Korban Longsor Agam

- Jumat, 19 Desember 2025 | 08:48 WIB
Prabowo Santap Nasi Goreng dan Janjikan Huntara Usai Dengar Tangis Korban Longsor Agam

Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan Agam, Kamis pagi itu, ketika Presiden Prabowo Subianto tiba di posko pengungsian di SD Negeri 5 Kayu Pasak. Lokasi ini menjadi salah satu titik yang ia tinjau langsung, menyusul bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat. Ia tak sendirian. Bupati setempat, Benni Warlis, dan Kepala BNPB Suharyanto mendampinginya langkah demi langkah.

Suasana hening sesekali pecah oleh sapaan hangat Prabowo kepada warga yang ditemuinya. Ia berhenti, mendengar, dan berbincang. Namun, ada satu momen yang menyita perhatian. Seorang kakek tua tak kuasa menahan tangis di hadapan sang Presiden. Sambil berkali-kali mengusap air mata, ia menyampaikan keluhannya. Prabowo mendengarkan dengan saksama, lalu menepuk-nepuk pundak sang kakek, sebuah gestur sederhana yang terasa lebih berarti dari sekadar kata-kata.

Dari situ, perhatiannya beralih ke suara riuh anak-anak. Rupanya, di salah satu ruangan, kegiatan trauma healing sedang berlangsung. Prabowo pun masuk. Begitu ia melangkah, antusiasme langsung terpancar dari wajah-wajah kecil itu. Ia menyalami, menepuk kepala, dan berbincang ringan. Ruangan yang semula penuh dengan bayangan berat bencana, sejenak terisi tawa.

Namun begitu, kunjungannya tak cuma soal mendengar dan menyapa. Ada hal lain yang menarik perhatian sang Presiden: dapur umum. Di sana, aroma nasi goreng baru matang tercium menggoda. Tanpa banyak bicara, Prabowo mencicipinya. Dan ia menyantapnya dengan lahap.

"Tahu saja kamu saya belum sarapan," ujarnya sambil tertawa, setelah sepiring nasi goreng telur yang katanya memang makanan favoritnya itu habis. Ia kemudian berbincang singkat dengan sejumlah prajurit TNI yang bertugas di lokasi sebelum kembali melanjutkan keliling.

Di sisi lain, di tengah kunjungan itu, Prabowo menyampaikan kabar yang mungkin bisa sedikit meringankan beban warga. Hunian sementara, atau huntara, sedang dibangun dengan target selesai dalam sebulan. "Supaya Bapak-bapak, Ibu-ibu semua tidak perlu tinggal di tenda," katanya. Itu baru tahap awal. Pemerintah juga sudah menyiapkan rencana untuk hunian tetap yang lebih layak, dengan luas sekitar 70 meter persegi. Menurutnya, kualitasnya cukup bagus.

Kunjungan itu juga diwarnai kejadian yang cukup menghangatkan suasana. Saat memperkenalkan jajarannya, Prabowo bertanya kepada para pengungsi soal nama Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin. Seorang remaja SMA dengan lantang menjawab. Rupanya, anak itu bercita-cita jadi tentara.

"Mau jadi tentara? Pantesan hafal nama Menteri Pertahanan," canda Prabowo. Lalu, dengan gaya khasnya, ia langsung meminta Sjafrie untuk memberi petunjuk kepada anak tersebut. "Kau ngerti kan kasih petunjuk? Petunjuk, kasih dong petunjuk," sambungnya, memancing senyum dari orang-orang di sekitar.

Usai meninjau, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang mendampingi perjalanan itu memberikan penjelasan lebih lanjut. Ternyata, perhatian Prabowo tidak hanya tertuju pada pemulihan fisik semata. Ada pekerjaan rumah yang lebih besar: tata kelola lingkungan. Prasetyo menyebut, izin-izin usaha di bantaran sungai dan pertambangan menjadi sorotan khusus Presiden. Arahan untuk menertibkan ini sudah disampaikan langsung kepada gubernur dan bupati setempat.

"Memang banyak yang harus menjadi pekerjaan rumah kita," ujar Prasetyo di Bandara Minangkabau, menegaskan bahwa pemulihan harus dibarengi evaluasi menyeluruh. Ia juga menyebut progres perbaikan infrastruktur krusial, seperti jalan nasional di Lembah Anai, sedang dikebut. "Kita bekerja secepat-cepatnya," tutupnya, mengakui bahwa setiap lokasi punya tantangannya sendiri-sendiri.

Kunjungan itu pun berakhir. Pesan yang tersisa jelas: di balik upaya tanggap darurat yang cepat, ada komitmen dan juga kritik untuk membenahi akar masalah, agar bencana serupa tak terulang lagi di kemudian hari.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar