Dulu, politik identik dengan ruang-ruang formal: parlemen, kantor pemerintahan, atau rapat partai. Sekarang? Semuanya berubah. Diskursus politik telah bergeser secara masif ke ruang digital. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X jadi panggung baru. Di situlah anak muda berdebat, menyampaikan pendapat, bahkan membangun gerakan sosial. Partisipasi politik kini tak melulu harus melalui organisasi besar; menyebarkan opini atau informasi yang akurat di linimasa sendiri sudah merupakan bentuk keterlibatan.
Masa Depan Mereka yang Dipertaruhkan
Ini mungkin alasan paling personal. Kebijakan politik hari ini mulai dari pendidikan, lapangan kerja, harga kebutuhan pokok, sampai regulasi digital akan berdampak langsung pada hidup mereka puluhan tahun ke depan. Kalau mereka diam saja, masa depan itu akan ditentukan oleh pihak lain yang belum tentu memahami atau mewakili kepentingan mereka. Jadi, keterlibatan politik adalah cara untuk memastikan hak dan aspirasi mereka tetap terdengar, bahkan terlindungi.
Pilar Demokrasi yang Tak Bisa Pincang
Pada akhirnya, demokrasi yang sehat butuh partisipasi dari semua lapisan masyarakat. Termasuk, tentu saja, generasi muda. Ketika mereka absen atau apatis, ruang politik bisa dikuasai oleh segelintir kelompok dengan kepentingan yang sempit. Kehadiran anak muda membuat demokrasi kita lebih dinamis, lebih inklusif, dan yang pasti, lebih berorientasi pada masa depan.
Jadi, pentingnya partisipasi politik generasi muda terangkum jelas. Jumlah mereka besar, perspektifnya segar, dan aktivitasnya nyata di ruang digital. Ditambah lagi, keputusan politik hari ini akan membentuk hidup mereka esok. Dengan terlibat, mereka bukan sekadar penonton. Mereka adalah aktor utama yang sedang mengukir arah bangsa ini.
Artikel Terkait
Bercak Darah di Kamar Lula Lahfah Diduga Darah Menstruasi
Anies Resmikan Jembatan Gantung, Jawab Penantian Warga Karanganyar Tiga Dekade
Lantai Kayu Tua Ambruk, Rombongan SD Terjatuh 4 Meter di Tangsi Belanda
Bencana Ekologis: Ujian Terberat Kedaulatan di Era Modern