Berjalan-jalan di mal atau toko ritel modern, mata kita sering tertumbuk pada label harga bertuliskan "150K" atau "25K". Praktis, ringkas, dan terkesan kekinian. Di sisi lain, wacana redenominasi rupiah yang kerap mengemuka juga mengusung semangat penyederhanaan angka. Meski sekilas mirip, dua hal ini ternyata punya dampak yang jauh berbeda bagi literasi keuangan dan kebiasaan belanja kita.
Ambil contoh redenominasi. Intinya, kebijakan ini akan memotong tiga angka nol dari nominal uang kita. Jadi, Rp 50.000.000 untuk sebuah motor cukup ditulis Rp 50.000 saja. Logikanya sederhana: angka-angka panjang dalam transaksi sehari-hari memang kerap membingungkan. Ini bukan devaluasi, lho. Daya beli uang tetap sama, cuma penulisannya yang dibuat lebih bersih.
Namun begitu, jalan menuju redenominasi yang mulus tidaklah pendek. Kunci utamanya ada pada edukasi yang masif dan waktu transisi yang cukup. Tanpa itu, bisa-bisa masyarakat malah panik, mengira uang mereka tiba-tiba menyusut nilainya. Persepsi salah seperti ini justru berbahaya.
Simbol "K" yang Trendi, tapi Bikin Bingung
Nah, kalau penggunaan simbol "K" untuk ribu di label harga? Ceritanya lain lagi. Praktik yang awalnya populer di media sosial dan platform digital ini memang hemat tempat dan terlihat modern. Tapi di lapangan, efeknya nggak selalu positif.
Pertama, notasi ini bisa membingungkan. Bagi generasi yang kurang melek digital atau konsumen usia lanjut, "25K" itu ambigu. Apakah dua puluh lima ribu, atau malah dua ratus lima puluh ribu? Mereka harus berpikir dua kali.
Kedua, ada soal transparansi. Secara psikologis, angka yang disingkat atau "disembunyikan" di balik huruf cenderung membuat kita kurang sadar akan jumlah uang yang sebenarnya kita keluarkan. Rasanya lebih ringan belanja 150K daripada Rp 150.000, padahal nominalnya persis sama.
Artikel Terkait
Jeffrey Hendrik Ditunjuk Jadi Plt Dirut BEI Gantikan Iman Rachman
BEI Siapkan Pimpinan Sementara Jelang Pembukaan Pasar Senin
Pemerintah Pastikan Bursa Tetap Stabil Meski Ada Rotasi Pucuk Pimpinan
Prabowo Beri Sinyal Keras: Saham Gorengan Tak Akan Ditoleransi