Di sisi lain, kehadiran MBG jelas sangat membantunya. Setiap hari ia menikmati menu yang disediakan. Bahkan program ini mengubah kebiasaannya. Dulu, Iik jarang sekali sarapan di rumah. “Jarang. Soalnya kalau tiap pagi suka kesiangan bangunnya,” akunya sambil tertawa kecil.
Meski perut sudah terisi oleh makanan sekolah, Iik mengaku masih sesekali jajan. Uang jajannya tak banyak, hanya sekitar tujuh hingga sepuluh ribu rupiah sehari. Tapi yang menarik, uang itu tak selalu habis.
“Kadang habis, kadang nggak. Kalau belum kenyang mah jajan, kalau udah kenyang mah nggak,” katanya, menggambarkan logika sederhana yang ia terapkan.
Rutinitas harian Iik cukup sederhana. Pagi hari, ia diantar ayahnya yang bekerja sebagai pengrajin sandal. Namun sepulang sekolah, ia harus menempuh perjalanan pulang dengan berjalan kaki. “Lumayan (jauh). Kalau pulang jalan kaki,” tandasnya. Rasa lelah pasti ada, tapi sepertinya sudah ia terima sebagai bagian dari keseharian.
Cerita Iik mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah di balik program MBG. Namun, ia memberi gambaran nyata. Bantuan yang tampaknya sederhana ini tak cuma mengatasi rasa lapar, tapi juga memberi harapan dan sedikit ruang bernapas bagi anak-anak dari keluarga yang sedang berjuang.
Artikel Terkait
Gatot Nurmantyo Soroti Tiga Langkah Polri yang Dinilai Membangkang
Demokrasi Tanpa Oposisi: Stabilitas atau Kekosongan Makna di Era Prabowo?
Mekanisme Ajaib dalam Tubuh: 10.000 Kerusakan DNA Diperbaiki Setiap Hari
31 Januari: Dari Lahirnya NU hingga Misi Antariksa Simpanse Ham