Di sisi lain, kehadiran MBG jelas sangat membantunya. Setiap hari ia menikmati menu yang disediakan. Bahkan program ini mengubah kebiasaannya. Dulu, Iik jarang sekali sarapan di rumah. “Jarang. Soalnya kalau tiap pagi suka kesiangan bangunnya,” akunya sambil tertawa kecil.
Meski perut sudah terisi oleh makanan sekolah, Iik mengaku masih sesekali jajan. Uang jajannya tak banyak, hanya sekitar tujuh hingga sepuluh ribu rupiah sehari. Tapi yang menarik, uang itu tak selalu habis.
“Kadang habis, kadang nggak. Kalau belum kenyang mah jajan, kalau udah kenyang mah nggak,” katanya, menggambarkan logika sederhana yang ia terapkan.
Rutinitas harian Iik cukup sederhana. Pagi hari, ia diantar ayahnya yang bekerja sebagai pengrajin sandal. Namun sepulang sekolah, ia harus menempuh perjalanan pulang dengan berjalan kaki. “Lumayan (jauh). Kalau pulang jalan kaki,” tandasnya. Rasa lelah pasti ada, tapi sepertinya sudah ia terima sebagai bagian dari keseharian.
Cerita Iik mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah di balik program MBG. Namun, ia memberi gambaran nyata. Bantuan yang tampaknya sederhana ini tak cuma mengatasi rasa lapar, tapi juga memberi harapan dan sedikit ruang bernapas bagi anak-anak dari keluarga yang sedang berjuang.
Artikel Terkait
KPK Tahan Mantan Stafsus Menag Gus Alex Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji
BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,75% untuk Antisipasi Dampak Gejolak Global
Mentan Amran Borong Takjil Pedagang di Bone, Bagikan Gratis ke Warga
Pemerintah Kaji Pemotongan Gaji Pejabat hingga Anggota DPR