Di Istana Negara, Senin lalu, suasana Sidang Kabinet Paripurna mendadak tegang. Presiden Prabowo Subianto tak main-main. Langsung ia menegur Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Intinya satu: tindak tegas anak buah yang malah jadi pelindung penyelundup.
“Saya dapat laporan dari penegak hukum, bahkan dari TNI sendiri,” ujar Prabowo, suaranya terdengar berat.
“Ada pejabat, ada petugas TNI yang terlibat. Ada juga dari Polri. Bahkan kementerian dan instansi lain ikut bermain.”
Ia tak berhenti di situ. Permintaannya blak-blakan dan ditujukan langsung ke dua pimpinan tertinggi itu.
“Saya benar-benar berharap Panglima TNI dan Kapolri bertindak. Aparat yang melindungi kegiatan penyelundupan ini harus dibereskan.”
Menurutnya, kebocoran terjadi di mana-mana. Sektor pertambangan dan penebangan liar disebut-sebut sebagai titik rawan. Tapi Prabowo tampaknya punya data. Ia mengaku sudah menghitung dan mempelajari angka-angkanya. Hasilnya? Kerugian negara dinilai sangat besar.
“Banyak sekali sumber daya kita yang bocor,” katanya.
“Sedikit demi sedikit, kita harus tutup celah itu.”
Di akhir pernyataannya, ada nada refleksi. Bukan sekadar perintah, tapi ajakan untuk introspeksi. “Kita tidak boleh takut mengakui kelemahan sendiri,” tutur Prabowo. Namun begitu, tekad untuk berbenah harus lebih kuat. Masalah ini, tegasnya, harus diselesaikan sampai tuntas.
Artikel Terkait
RSHS Bandung Siapkan Operasi Rekonstruksi Wajah Korban Penyekapan Taufik Hidayat secara Bertahap
Dokter Curiga Pasien Tak Ceritakan Keluhan, Terbongkar Kasus Dugaan Penyekapan dan Penganiayaan di Bandung
Analis: Kasus Suap Blueray Cargo Bukan Korupsi Biasa, Ada Persaingan Politik TNI vs Polri
Sudut Pandang: Penertiban Parkir Liar di Jalan Senopati dan Gunawarman, Sudin Hubung Jaksel Derek Mobil Mewah hingga Cabut Pentil Motor