Kadri Mohamad: Saat Nada, Kitab Undang-Undang, dan Kepedulian Menyatu
Kadri Mohamad. Bagi banyak orang, namanya identik dengan dua dunia yang seolah tak beririsan: panggung musik dan ruang sidang. Sebagai musisi senior sekaligus pengacara korporasi ternama, ia sudah lama menjalani kedua peran itu. Tapi belakangan, perhatian justru tertuju pada sesuatu yang lebih mendasar dari sekadar prestasi profesionalnya. Ia menggerakkan inisiatif kemanusiaan yang melibatkan puluhan musisi tanah air, untuk membantu korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera. Gerakan bertajuk 100 Musisi Heal Sumatera itu akan digelar untuk kedua kalinya pada 16 Desember 2025 mendatang.
Di tengah hiruk-pikuk perdebatan tentang hak cipta yang memenuhi linimasa media sosial, langkah Kadri terasa seperti angin segar. Alih-alih larut dalam polemik yang tak kunjung usai, ia memilih untuk bertindak nyata. Baginya, panggung kemanusiaan adalah medium yang tepat. Musik dijadikan sarana untuk membangkitkan solidaritas, menggalang empati, dan yang paling penting, memberikan bantuan langsung bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
Musik, bagi Kadri, jelas bukan cuma urusan nada dan lirik belaka. Ia melihatnya sebagai alat untuk menyentuh luka, menguatkan harapan. Saat duka menyelimuti masyarakat Sumatera pasca-bencana, ia dan rekan-rekan musisinya bergerak tanpa banyak gembar-gembor. Mereka menggalang dukungan dengan cara yang konkret. Langkah ini seakan menegaskan sesuatu: menjadi musisi tak melulu soal memperjuangkan nasib profesi sendiri, tapi juga soal kepekaan untuk merasakan dan keberanian untuk hadir di saat yang paling sulit.
“Semoga setiap kebaikan yang dilakukan untuk sesama menjadi cahaya penerang dan membawa berkah,” ujarnya dalam sebuah kesempatan, pertengahan Desember 2025 lalu.
Di sisi lain, jangan lupakan kredensialnya di dunia hukum. Di luar panggung, Kadri adalah sosok yang sangat disegani. Namanya konsisten masuk dalam daftar Top 100 Lawyers Indonesia versi Asian Business Law Journal selama enam tahun berturut-turut prestasi yang tak main-main. Sebagai Senior Partner di firma hukum GHP, ia memimpin praktik khusus untuk BUMN dan megaproyek, menangani klien-klien besar seperti PLN. Firma hukumnya sendiri termasuk dalam jajaran sepuluh terbaik di Indonesia.
Julukan “The Singing Lawyer” pun melekat padanya, menggambarkan dua identitas yang ia jalani dengan sepenuh hati. Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini ahli dalam urusan korporasi, restrukturisasi, hingga merger dan akuisisi. Sementara di dunia musik, ia adalah veteran. Dulu ia adalah vokalis band legendaris era 80-an, Makara Band, dan juga The KadriJimmo. Baru pada 2024 ia merilis single solo perdananya, “Karmila”. Komitmennya pada industri musik juga nyata, terlihat dari keterlibatannya di berbagai organisasi seperti PAPPRI dan FESMI, serta dalam ekosistem AMI Awards.
Pada akhirnya, di tengah polarisasi wacana yang kerap mengeras, sosok Kadri Mohamad menghadirkan sesuatu yang jarang: ketulusan. Ia adalah wajah musisi yang tak hanya bicara tentang kepentingannya sendiri, tetapi juga melihat realitas sosial yang lebih luas. Inisiatif kemanusiaannya mengingatkan kita bahwa seni, hukum, dan kepedulian sejatinya punya titik temu yang sama, yaitu keadilan dan keberanian untuk bertindak.
Dalam hidup Kadri, ketiga elemen itu berpadu dengan harmonis. Membuktikan bahwa musik bukan cuma ekspresi seni, melainkan juga sebuah aksi nyata untuk sesama.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Komplotan Pembobol Rumah Lintas Provinsi, Incar Rumah Kosong dengan Ciri Lampu Teras Menyala
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali