Si Paling Aceh Bergerak Lagi: Selamatkan Cabe dari Banjir, Buka Pasar di Tengah Krisis

- Senin, 15 Desember 2025 | 13:20 WIB
Si Paling Aceh Bergerak Lagi: Selamatkan Cabe dari Banjir, Buka Pasar di Tengah Krisis

Ferry Irwandi, sang aktivis yang kerap dipanggil 'Si Paling Aceh', kembali menunjukkan aksinya. Kali ini, bukan sekadar omongan. Ia sudah beberapa hari terakhir terjun langsung ke wilayah Aceh yang dilanda banjir, membantu warga yang terdampak.

Tapi bantuannya tak cuma berhenti di sembako atau tenda pengungsian. Ferry melihat lebih jauh. Ia prihatin dengan roda ekonomi warga yang ikut terhambat akibat bencana ini. Lalu, ia pun turun ke lapangan, melakukan riset kecil-kecilan di Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Dari sana, ditemukanlah sebuah persoalan yang mendesak. Ada komoditas cabe lokal yang justru melimpah ruah saat musim sulit ini. Sayangnya, karena akses terputus dan distribusi macet, hasil panen yang berharga itu terancam busuk begitu saja di kebun. Sungguh ironis di tengah kesulitan.

Nah, di sinilah Ferry punya ide. Daripada membiarkan cabe-cabe itu terbuang, ia mencari cara untuk menyalurkannya ke pasar. Caranya? Ia menggaet rekan-rekannya, menggerakkan jaringan, dan berusaha membuka akses pemasaran. Aksi nyata ini langsung terekam dan diunggahnya ke media sosial.

Respons warganet pun beragam. Banyak yang memuji langkah solutifnya.

"Si Ferry ini solutif banget. Kapan ya bisa punya pemimpin bangsa seperti ini?" tulis salah satu akun.

Namun, di sisi lain, ada juga yang menyoroti fenomena ini sebagai cermin ketidakadaan negara.

"Negara autopilot, rakyatnya disuruh mikir sendiri kerja sendiri," komentar netizen lain dengan nada sinis.

Tak hanya cabe, ada juga yang mengingatkan potensi komoditas lain dari daerah itu.

"Kopi mereka juga bagus-bagus banget kualitas ekspor. Saya salah satu konsumen yang dikirim langsung dari Takengon," kenang seorang pengguna.

Aksi Ferry ini, mau tak mau, menyisakan pertanyaan. Di satu sisi, ia hadir sebagai solusi cepat di tengah vakumnya bantuan sistemik. Di sisi lain, aksi individu seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi jika mekanisme penanganan bencana berjalan optimal. Tapi ya, itulah realitanya. Saat banjir datang, yang muncul justru 'Si Paling Aceh' dengan segudang ide dan tenaganya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar