Gaza: Catatan Kelam Jurnalis dalam Cengkeraman Perang

- Minggu, 14 Desember 2025 | 17:25 WIB
Gaza: Catatan Kelam Jurnalis dalam Cengkeraman Perang

Gaza (SI Online) – Sejak Oktober tahun lalu, Gaza telah berubah menjadi neraka bagi para jurnalis. Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) baru-baru ini menyatakan sebuah fakta mengerikan: konflik ini adalah yang paling mematikan bagi para awak media sejak mereka mulai mencatat pada 1992. Angka kematiannya terus merangkak naik, tanpa tanda-tanda akan berhenti.

Menurut CPJ, yang datanya dikutip Pusat Informasi Palestina Jumat lalu, ada pola yang mengkhawatirkan di sini. Pendudukan Israel diduga melakukan penargetan secara sistematis terhadap para jurnalis. Bayangkan, sejak awal eskalasi, jumlah rekan kami yang gugur melonjak drastis. Ini jelas menunjukkan satu hal: meliput dari Gaza sekarang adalah pekerjaan dengan risiko tertinggi. Mereka yang berusaha menyampaikan suara dari tanah yang terkepung ini benar-benar mempertaruhkan nyawa.

Di sisi lain, sorotan juga ditujukan pada Amerika Serikat. CPJ menyoroti kegagalan Washington meminta pertanggungjawaban Israel atas tewasnya seorang jurnalis berkewarganegaraan AS di Lebanon selatan.

Padahal, tim penyelidik internasional sudah sampai ke lokasi serangan itu.

Sikap diam mereka, bagi banyak pengamat, cuma memperkuat budaya impunitas rasa kebal dari hukuman yang dinikmati Israel ketika menyerang pekerja media.

Lalu, ada laporan lain yang tak kalah suram. Reporters Without Borders (RSF) mengeluarkan data pada Selasa yang menempatkan Israel kembali di puncak. Untuk tahun ketiga berturut-turut, negara itu dinobatkan sebagai yang paling berbahaya bagi jurnalis di seluruh dunia pada 2025.

Angkanya berbicara sendiri. Dari 67 jurnalis yang tewas secara global sepanjang tahun ini, hampir separuhnya dibunuh oleh Israel. Fokusnya ada di Gaza: 29 jurnalis Palestina telah syahid di sana tahun ini saja. Itu setara dengan 43 persen dari total korban global. Sungguh proporsi yang mencengangkan.

Kalau ditarik mundur, gambarnya semakin muram. RSF mencatat, sejak perang dimulai, total jurnalis yang tewas telah melampaui 220 orang. Belum lagi 20 jurnalis Palestina yang masih mendekam di penjara Israel. Di tengah semua aturan hukum humaniter internasional yang seharusnya melindungi mereka, para jurnalis di Gaza justru menghadapi ancaman terbesar di planet ini.

Konteks dari semua ini adalah sebuah perang pemusnahan demikian istilah yang digunakan yang didukung AS. Data Palestina menyebutkan lebih dari 70.000 warga gugur dan 171.000 lainnya terluka dalam dua tahun terakhir. Mayoritas? Perempuan, anak-anak, warga sipil yang tak punya tempat lagi untuk lari.

Namun begitu, kekerasan ternyata belum usai. Meski perjanjian gencatan senjata seharusnya berlaku mulai 10 Oktober 2025, pelanggaran dilaporkan terjadi hampir setiap hari. Akibatnya, 373 warga Palestina lagi gugur, dan 970 lainnya luka-luka. Gencatan senjata itu seolah hanya ada di atas kertas, sementara di lapangan, agresi terus berjalan.

Tekanan dari komunitas internasional pun kian mengeras. Serangan Israel yang menyasar jurnalis, kantor media, dan tentu saja warga sipil, semakin banyak dikutuk. Banyak yang meyakini ini bukanlah insiden acak. Pembunuhan terhadap jurnalis dilihat sebagai upaya yang disengaja untuk membungkam suara independen. Untuk menyembunyikan kebenaran, dan menghalangi dunia menyaksikan langsung bukti-bukti kejahatan yang terus berulang di Gaza. []

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar