Harga saham SMKM melonjak 6,21% pada Jumat kemarin, menutup di Rp154. Gerakan ini menarik perhatian, terutama setelah sebelumnya sahamnya terjun bebas hampir 10%. Ternyata, ada kabar besar di balik volatilitas itu.
PT Sumber Mas Konstruksi Tbk (SMKM) bersiap mengambil alih penuh sebuah perusahaan di Singapura, LSO Organization Holdings Pte Ltd. Mereka sudah tandatangani perjanjian awal dengan Advanced Systems Automation Limited (ASA) pada 30 Januari lalu. Intinya, ASA mau melepas seluruh saham LSO Holdings yang mereka pegang ke SMKM.
Nilai akuisisinya? Bisa mencapai SGD13 juta, atau kalau dirupiahkan sekitar Rp172,25 miliar. Tapi angka pastinya masih nunggu laporan penilai independen. Jadi, masih bisa ada penyesuaian.
"Penyelesaian transaksi tunduk pada pemenuhan sejumlah kondisi prasyarat dengan batas waktu maksimal hingga 30 Juni 2027. Tenggat tersebut dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan bersama,"
Begitu penjelasan manajemen SMKM dalam keterbukaan informasinya. Jadi, deal-nya belum final. Semua masih bergantung pada pemenuhan syarat-syarat yang disepakati kedua belah pihak. Kalau semua lancar, SMKM bakal pegang 100% saham LSO Holdings.
Lalu, apa alasan di balik langkah ini? Menurut pihak perusahaan, akuisisi LSO Holdings ini selaras dengan bisnis pengendali baru mereka, Lim Shrimp Org Pte Ltd. Perusahaan asal Singapura itu punya pengalaman kuat di bidang akuakultur dan konstruksi. Dengan memboyong LSO Holdings ke dalam naungan SMKM, mereka berharap bisa ciptakan nilai tambah dan pacu kinerja usaha ke depan.
"Setiap perubahan atau pengembangan kegiatan usaha akan tetap dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian serta mematuhi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku," kata manajemen.
Ini bukan langkah pertama transformasi SMKM. Sebelumnya, mereka sudah resmi berganti pengendali ke Lim Shrimp Org. Akuisisi tahap pertama itu seperti pintu masuk, mengubah wajah perusahaan konstruksi ini menjadi calon pemain akuakultur regional. Cakupan bisnisnya kini menjangkau Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Nah, laporan valuasi independen tadi akan jadi acuan penting sebelum SMKM melaksanakan Penawaran Umum Terbatas dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Rencananya, HMETD itu bakal digelar tahun 2027. Jadi, perjalanan masih panjang, tapi langkah strategisnya sudah mulai terlihat jelas.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020