Suasana di Tepi Barat kembali memanas. Menurut laporan, pemukim Israel mengusir paksa setidaknya 15 keluarga Palestina dari rumah mereka. Yang menyedihkan, keluarga-keluarga itu terpaksa merobohkan sendiri tempat tinggal mereka sebelum akhirnya meninggalkan wilayah tersebut.
Kepala Dewan Desa al-Malih, Mahdi Draghmeh, mengonfirmasi kejadian ini.
Dia menyebut kepada kantor berita Wafa bahwa pengusiran paksa terjadi pada Selasa lalu. Di tengah ancaman dan serangan yang kian menjadi, para warga pun mulai membongkar rumah mereka dengan tangan sendiri.
Namun begitu, ini bukan satu-satunya kasus. Ternyata, beberapa hari sebelumnya, tujuh keluarga lain dari komunitas Maita di sekitarnya sudah lebih dulu mengalaminya. Polanya sama: serangan dan ancaman dari pemukim memaksa mereka pergi.
Di sisi lain, kekerasan juga terjadi di tempat terpisah. Seorang pria dari desa Nabi Samwil, yang terletak di barat laut Yerusalem Timur, diserang oleh para pemukim. Korban mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi memar.
Gelombang kekerasan ini seolah beriringan dengan operasi militer Israel yang kian intensif. Hanya kemarin, penggerebekan dan penghancuran dilaporkan terjadi di Nablus, Al Khader, dan Salfit. Situasinya benar-benar mencekam.
Sementara itu, pemerintah Israel justru mengambil langkah-langkah yang memperkuat cengkeramannya. Mereka mempermudah pemukim membeli tanah Palestina. Tak hanya itu, pendaftaran tanah Palestina sebagai tanah negara Israel juga dibuka lebar-lebar. Langkah ini jelas menuai kecaman dari berbagai pihak.
Artikel Terkait
Wagub Jakarta Rano Karno Salat Idul Adha di Balai Kota Bersama Ribuan Warga
Pemerintah Targetkan 150 Ribu Peserta Program Magang Nasional 2026, Naik 50 Persen dari Tahun Sebelumnya
Istana Cipanas Buka Magang untuk Mahasiswa dan Siswa SMK, Tersedia Empat Posisi
Mantan Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika Tersangka Perintangan Penyidikan Korupsi Minyak Sawit