Menurutnya, buku ini dibuat agar umat Buddha bisa secara langsung menghubungkan etika dalam ajaran mereka seperti Sila dan Pancasila dengan konteks pemberantasan korupsi. Dengan begitu, nilai-nilai itu tak lagi abstrak, melainkan bisa dipraktikkan dalam dinamika hidup sehari-hari.
Supriyadi berharap, Jalan Dhamma bisa menjadi panduan yang solid bagi umat untuk menolak segala bentuk korupsi. Ke depannya, ia membayangkan umat Buddha bisa tampil sebagai teladan integritas.
Caranya? Dengan mempraktikkan hidup sederhana, kejujuran, dan tentu saja, cinta kasih atau metta dalam setiap interaksi baik di keluarga, tempat kerja, maupun dalam lingkup masyarakat yang lebih luas.
Peluncuran keenam buku ini, pada akhirnya, adalah sebuah simbol. Ia menunjukkan bahwa perang melawan korupsi membutuhkan lebih dari sekadar penindakan. Perlu ada upaya membangun kesadaran dari dalam, yang bersumber dari nilai-nilai terdalam yang dipegang setiap orang.
Artikel Terkait
PPATK Catat Penurunan Signifikan Perputaran Dana Judi Online pada 2025
Persada 212 Desak Indonesia Keluar dari Board of Peace Trump, Sebut Wadah Pengkhianatan bagi Palestina
Dugaan Suap Rp50 Miliar ke Kejaksaan Agung Hambat Pengusutan Tambang Ilegal Kalbar
Mahkota Longsor di Burangrang Picu Rantai Bencana, Operasi SAR Terus Digenjot