Gambaran yang ia sampaikan suram. Penanganan yang berjalan lamban itu, klaimnya, belum sebanding dengan penderitaan warga. Bahkan, kerusakan yang ada disebut butuh waktu puluhan tahun untuk diperbaiki itu pun jika tanpa bantuan dari luar.
Nada bicaranya semakin keras, menyentuh persoalan yang lebih mendasar.
“Aceh sedang menjerit. Ini bukan waktunya untuk rapat tanpa aksi,” ujarnya.
“Jika pemerintah pusat tidak peduli, maka rakyat Aceh berhak mempertanyakan kembali komitmen kebangsaan yang selama ini kami junjung.”
Pernyataan penutupnya terdengar seperti ultimatum, sebuah sinyal yang jelas tentang kekecewaan yang telah menumpuk.
“Kami tidak ingin konflik. Tapi jika dibiarkan terus begini, kami siap berdiri sendiri.”
Pernyataan politik ini jelas bukan sekadar keluhan biasa. Ia mencerminkan kegelisahan yang mendalam di tengah bencana yang seolah tak kunjung usai, dan respons pusat yang dianggap tak sebanding dengan skala duka yang harus ditanggung warga Aceh.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral