Jangan Ajarkan Sabar pada Kami, Pak Presiden!

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 16:00 WIB
Jangan Ajarkan Sabar pada Kami, Pak Presiden!

Pak Presiden! "Jangan Ajarkan Kami Kata Sabar"

✍🏻 Cut Meutia

Desember 2004. Gempa dan gelombang raksasa menghajar Aceh tanpa ampun. Dalam sekejap, provinsi itu lumpuh total. Gelap. Sunyi. Ribuan nyawa tersapu, hilang begitu saja dalam amukan air laut.

Dalam situasi kacau-balau itu, ada sosok yang bergerak cepat: Jusuf Kalla. Begitu dapat laporan korban bisa mencapai ribuan, dia langsung bertindak. Tak tunggu besok, tak pusingkan administrasi berbelit, apalagi menunggu kamera atau rapat tanpa ujung. Dia pasang badan, tabrak aturan sekalipun, demi satu hal: menyelamatkan nyawa sebanyak-banyaknya.

Padahal, saat itu JK bukan presiden. Kekuasaan penuh tak ada di tangannya. Tapi ketegasannya tak terbantahkan.

Lalu, bandingkan dengan sekarang.

Kita punya Presiden berlatar belakang militer. Semua kewenangan ada di genggamannya. Tapi, entah kenapa, ketegasannya tak sampai seperti yang dulu ditunjukkan JK. Ketika tekanan dari dunia internasional makin keras, dengan lantang dia bilang, "Indonesia Bisa Menanganinya."

Namun begitu, saat rakyat yang menuntut, jawabannya justru lain.

"Sabar. Pemerintah tak punya tongkat Musa," begitu katanya.

Nah, ini yang mau kami sampaikan. Pak Presiden, tolong jangan ajarkan kata 'sabar' kepada kami, rakyat Aceh.

Sejak dalam kandungan, tauhid sudah jadi makanan pokok kami. Bencana datang silih berganti menghantam tanah ini. Tapi kewarasan kami tak pernah benar-benar hilang. Sebab bagi kami, sabar bukan sekadar ucapan. Ia sudah meresap jadi bagian dari ruh.

Urusan menyirami rohani, serahkan saja pada pak kiai dan para ustadz. Itu ranah mereka. Tidak perlu Bapak menggantikan posisi itu.

Tugas Bapak sebenarnya jelas: selesaikan persoalan bangsa. Urus dan peliharalah baik-baik para bahlul, para abdi, dan penjilat yang ada di sekeliling Bapak itu. Itu saja sudah cukup berat.

Kita cuma bisa berharap dan berdoa. Semoga bencana yang diprediksi BMKG untuk Sumatra tidak sampai merambat ke Jawa, Bali, atau daerah lain. Bayangkan jika itu terjadi. Dengan kondisi kepemimpinan seperti sekarang, besar kemungkinan Indonesia nanti hanya tinggal nama.

(fb)

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar