Wall Street Ditutup Menguat Meski Kenaikan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen

- Rabu, 18 Maret 2026 | 06:50 WIB
Wall Street Ditutup Menguat Meski Kenaikan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen

Wall Street berhasil menutup perdagangan Selasa dengan catatan hijau. Meski begitu, semangat optimisme di awal sesi perlahan memudar seiring berjalannya waktu, berbanding terbalik dengan harga minyak yang terus merangkak naik. Sentimen pasar masih tertekan oleh serangan AS-Israel terhadap Iran yang belum juga mereda.

Nah, pekan ini jadi momen penting buat para pelaku pasar. Mereka menunggu keputusan suku bunga dari sejumlah bank sentral, termasuk The Fed. Harapannya sih, bisa dapat sinyal jelas tentang langkah kebijakan apa yang akan diambil untuk menahan laju inflasi, yang lagi terpukul oleh harga energi yang melambung.

Indeks S&P 500 bertambah 0,3 persen ke level 6.717,19. Angka itu sebenarnya lebih rendah dari kenaikan sementara yang sempat menyentuh 0,8 persen di tengah sesi. Sementara itu, NASDAQ Composite yang dipenuhi saham teknologi lebih perkasa, naik 0,5 persen ke 22.479,53.

Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average hanya bergerak tipis. Indeks yang diisi perusahaan-perusahaan blue-chip itu cuma naik 0,1 persen, berakhir di 46.993,87 poin.

Perlu diingat, reli solid sudah terjadi sehari sebelumnya, di hari Senin. Saat itu, saham teknologi seperti Nvidia memberi angin segar, ditambah harga minyak yang sempat melunak. Momentum itu sempat terbawa ke pembukaan Selasa. Tapi ya, seperti yang terlihat, kenaikannya tak bertahan lama. Semuanya tergerus seiring minyak yang kembali menguat.

Jake Dollarhide dari Longbow Asset Management mencoba membaca situasi yang tampak paradoks ini. Menurutnya, meski minyak mahal, ada optimisme jangka pendek yang tersisa.

"Dengan kabar Israel menewaskan Kepala Keamanan Iran Ali Larijani semalam, pasar sepertinya masih punya harapan. Tapi jangan salah," katanya.

"Kondisinya tetap rapuh. Berita buruk apa pun terkait perdagangan minyak atau konflik yang berkepanjangan, bisa dengan gampang membalikkan keadaan dan membuat indeks volatilitas (VIX) melonjak."

Konflik di Timur Tengah sendiri makin panas. Israel mengklaim telah menewaskan Ali Larijani dalam sebuah serangan udara, seperti dilaporkan Wall Street Journal. Bukan cuma dia, sejumlah media juga memberitakan tewasnya Gholamreza Soleimani, Komandan Unit Paramiliter Basij Iran. Namun, kabar ini belum dikonfirmasi oleh otoritas atau media lokal Iran.

Di tengah gejolak itu, perhatian juga tertuju ke Selat Hormuz. Jalur laut vital di selatan Iran ini masih ditutup. Menariknya, Iran menyatakan selat itu terbuka untuk semua kapal kecuali kapal-kapal milik AS dan sekutunya. Padahal, sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasa melewati jalur sempit ini. Situasinya benar-benar genting.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler