Angin panas masih berembus dari arah sungai, membawa aroma lumpur kering yang menusuk. Debu beterbangan, menyelip ke dalam tenda-tenda darurat dan paru-paru para pengungsi yang sudah beberapa hari bertahan di sini.
Lumpur setengah kering masih menempel di mana-mana, di trotoar, di dinding. Kayu gelondongan berserakan di bawah jembatan, sisa amukan banjir dan tanah longsor yang menggulung Aceh Tamiang. Jejak air bah itu ibarat luka yang belum sempat dibersihkan, masih basah dan perih.
Di Desa Sukajadi, Kamis lalu, deretan tenda putih dan oranye memanjang di sisi jembatan Kuala Simpang. Aktivitas pengungsi tampak dari luar: ada yang keluar mencari udara, ada yang cuma duduk termenung. Truk-truk air bersih berjajar, memberikan sedikit kepastian. Beberapa meter dari sana, asap mengepul dari dapur umum TNI dan Polri.
Tapi cerita sebenarnya seringkali tersembunyi. Tidak semua duka terpampang di permukaan.
Di sebuah tenda, seorang ibu muda bernama Sri Novita Rizki duduk memeluk bayinya. Wajahnya pucat. Tangannya sesekali menepuk-nepuk tubuh mungil yang meringkuk di lengannya, Aira Zahra Khalila Nasution.
"Iya, pas banjir. Dia lahir tanggal 18, 18 bulan 1," ujar Sri.
Bayinya baru lahir dua hari sebelum air menerjang rumah mereka. Dalam kondisi nifas, Sri harus mengangkat bayi itu setinggi-tingginya, berjuang keluar dari rumah yang airnya sudah setinggi lutut.
"Gimana ya, kan bawa bayi. Bisa menyelamatkan bayi aja lah, bisa menyelamatkan semuanya," katanya, suaranya lirih.
Perjuangan mereka tak berhenti di situ. Untuk beberapa hari awal, mereka terisolasi. Tak ada bantuan yang sampai. Susu formula tak ada, air bersih pun langka. Dalam keputusasaan, Sri terpaksa memberi anaknya air tajin.
"Enggak ada air susu. "Netein" gak ada, "netelah" dia kasih air tajin karena gak ada susu. Karena enggak ada susu, enggak ada yang minum," jelasnya.
Suaminya terjebak, tak bisa pergi mencari pertolongan. Akhirnya, mereka mengungsi ke sebuah ruko di dekat kantor bupati, tempat yang lebih tinggi. Tapi situasinya tak kalah mencemaskan.
"Itulah kejebak di sini gak bisa keluar. Kami di Jotun, samping Jotun ruko kan, karena anak kecil," terang dia.
Di sisi lain, ibunda Sri, Suhaibah, punya cerita yang lebih mencekam lagi. Dengan suara serak, ia bercerita bagaimana air yang naik perlahan tiba-tiba menjadi bah setinggi pinggang dalam hitungan jam. Mereka naik ke lantai dua ruko Jotun, bertahan di sana selama lima hari.
"3 hari kami nggak makan," kenangnya lirih.
Bayi kecil itu menangis terus. Tak ada susu, tak ada air bersih. Melihat cucu pertamanya sekarat, Suhaibah nekat. Ia dan seorang anaknya memutuskan untuk berenang mencari bantuan.
"Jadi kami nekat-nekatlah berenang. Ini kakak dia, kakak si adik yang melahirkan, kami nekat berenang. Kami berenang naik-naik atap oranglah semua gitu kan," kata Suhaibah.
Mereka merangkak melalui semak, berpegangan pada pohon, melawan arus yang deras. Sesekali mereka singgah di pengungsian lain, meminta bubur lembek atau air tajin untuk tiga keluarga yang kelaparan. Makanan itu lalu dibungkus rapat dengan plastik.
"Bawanya dimasukin plastik semua, di double-double plastiknya. Kami ikat di leher atau di pinggang. Nanti saya duluan berenang. Habis itu dia lempar makanan itu tadi, pakai tali nanti saya tarik," imbuhnya, menggambarkan ritual penyelamatan yang penuh risiko itu.
Di luar tenda, kehidupan berjalan. Suara air dari truk bersih mendesing, anak-anak berlarian menghindari genangan lumpur yang mulai mengeras. Tapi di balik terik matahari dan aktivitas itu, ada kisah-kisah yang jauh lebih pekat.
Luka di Aceh Tamiang ini masih sangat basah. Lumpur akan mengering, kayu-kayu akan dibersihkan, jembatan akan difungsikan kembali. Namun, trauma yang tertinggal terutama pada para ibu dan anak-anak rasanya akan bertahan lebih lama dari semua sisa banjir itu.
Dan di antara semua suara itu, tangis bayi kecil masih terus terdengar.
Artikel Terkait
Madura United Kalahkan Semen Padang 1-0 Berkat Gol Cepat Junior Brandão
Pemprov Sulsel Gerak Cepat Tangani Kasus Santri Diduga Dipaksa Pakai Vape Berbahaya di Pangkep
Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Masuk Agenda UNESCO, Wacana Film Layar Lebar Mengemuka
KAI Tutup 1.800 Perlintasan Liar yang Dinilai Picu Kecelakaan Kereta Api