Di sisi lain, Gufroni melihat kondisi saat ini sebagai momentum untuk berpikir ulang. Bencana alam terjadi di berbagai tempat, dan eksploitasi tambang nikel, batu bara, dan lainnya sering dituding sebagai salah satu pemicu kerusakan yang luar biasa.
“Saya pikir Muhammadiyah secara lebih bijak untuk tidak memberikan permintaan atau apapun ke pemerintah terkait dengan masalah izin usaha pertambangan,” ujarnya.
Dia lalu menyimpulkan dengan nada sedikit sinis. “Jadi anggap saja Muhammadiyah kena korban ‘prank’ dari pemerintahan sebelumnya.”
Pernyataan itu ditutup dengan harapan agar kejadian ini menjadi pelajaran. “Demikian semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
[VIDEO]
Artikel Terkait
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus