Ibu Reyhan Berduka: Kenapa di Kantor Tak Ada Simulasi Darurat?

- Selasa, 09 Desember 2025 | 23:48 WIB
Ibu Reyhan Berduka: Kenapa di Kantor Tak Ada Simulasi Darurat?

Suara Mimi Andriani bergetar saat ia mengingat pagi Selasa itu. Pagi terakhir ia melihat putranya, Reyhan, berangkat kerja. "Kok secepat itu?" ujarnya, matanya berkaca-kaca. "Baru usianya 24 tahun. Masih banyak mimpi-mimpi dia yang belum kesampaian."

Ia ditemui di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, malam di hari yang sama. Duka sudah pasti menyelimutinya. Reyhan adalah salah satu karyawan Terra Drone yang jadi korban kebakaran di Kemayoran.

Rutinitas pagi itu berjalan biasa saja, bahkan sangat biasa. Reyhan pamit seperti selalu: mencium tangan ibunya. "Baik mama, mama hati-hati ya nyetirnya," kata Mimi menirukan ucapan anaknya. Itu adalah kalimat terakhir yang didengarnya langsung dari putra pertamanya itu.

Mimi juga mengenal kebiasaan Reyhan yang tak suka jajan. "Abang tuh kurang suka mah jajan di luar," kenangnya. "Abang bawa nasi aja ya dari rumah. Oke, nggak apa-apa." Bekal dari rumah itu selalu ia bawa.

Namun begitu, tak ada yang bisa menduga nasib. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa anaknya telah pergi. "Emang sih, kalau Tuhan berkehendak, kita juga mau bilang apa ya. Kita hanya bisa ikhlas," ucap Mimi. Tapi sebagai seorang ibu, rasanya tentu lain. "Tapi kan sebagai ibu, saya gimana sih anak saya yang paling gede baru kerja. Baru gede, satu tahun lebih kurang di situ."

Di balik kesedihannya, ada satu pertanyaan yang mengganjal. Mimi merasa bingung, kenapa di kantor tempat anaknya bekerja tak ada prosedur darurat yang jelas. "Cuma yang bingungnya di kantor ini, kok nggak ada penanganan kayak simulasi atau apa," tuturnya.

Informasi yang ia terima menyebut Reyhan terjebak di lantai 5. "Gimana Reyhan meregang nyawanya. Kena asap di lantai 5," ucap Mimi dengan pilu.

Sampai saat ini, kepastian masih mengambang. Mimi belum bisa memastikan apakah jasad Reyhan termasuk di antara 22 jenazah yang sedang diidentifikasi di RS Polri. Ia belum berani melihat. "Saya belum melihat apakah Reyhan ada di dalam itu. Tapi kalau di daftar ada nama Reyhan," jelasnya. Pihak rumah sakit sudah meminta ciri-ciri dan mengambil sampel DNA. Tapi hasilnya? Mimi masih menunggu, dihantui ketidakpastian.

Ponsel Reyhan sudah tak bisa dihubungi. "Sudah, tapi "check list" 1, hp nya sudah enggak aktif," ungkapnya. Komunikasi terakhir mereka hanya lewat pesan singkat di pagi hari, percakapan remeh-temeh tentang sebuah paket. "Saya bilang 'nak ini ada paket', dia bilang 'itu dari Samsung mah', cuma itu aja." Itulah akhir dari segala percakapan mereka.

Di sisi lain, keterangan resmi datang dari Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, Bayu Meghantara. Di lokasi kejadian, ia memastikan seluruh korban tewas adalah karyawan Terra Drone.

"Ada 22 orang meninggal dunia. 15 wanita dan 7 orang laki-laki. Seluruhnya adalah karyawan Terra Drone," ujar Bayu.

Menurut penjelasannya, penyebab kematian bukanlah api. "Iya [meninggal karena kehabisan oksigen]. Mungkin karena sifat asap dari bawah ke atas," katanya. Kebakaran yang bermula di lantai satu memang berhasil dipadamkan, tapi asap pekatnya sudah terlanjur naik ke lantai atas.

Fakta itu yang mungkin menjelaskan mengapa banyak korban justru ditemukan di lantai 3 dan 4, bukan di sumber api. Mereka terjebak, kehabisan napas, tanpa ada jalan keluar yang jelas.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar