Aceh Tamiang: Seminggu Usai Banjir Bandang, Kehidupan Masih Terendam Lumpur

- Selasa, 09 Desember 2025 | 17:54 WIB
Aceh Tamiang: Seminggu Usai Banjir Bandang, Kehidupan Masih Terendam Lumpur

Sudah lebih dari seminggu berlalu, tapi lumpur masih di mana-mana. Aceh Tamiang, kabupaten yang diterjang banjir dan longsor hebat sejak Rabu pekan lalu, masih terlihat seperti medan perang yang basah. Situasi hingga Selasa ini, jujur saja, belum bisa dibilang pulih.

Jalan-jalan utama lebih mirip aliran coklat kental. Mobil dan motor yang terseret arus masih berserakan di pinggir, teronggok begitu saja, seolah menunggu kesabaran untuk diangkut. Yang lebih memilukan, banyak rumah warga nyaris rata dengan tanah. Hancur.

Di tengah kondisi itu, kantor Bupati pun terpaksa beralih fungsi. Ruang kerja berubah jadi posko pengungsian, tempat warga yang kehilangan segalanya berteduh. Aktivitas sehari-hari lumpuh total. Pasar tutup, sekolah-sekolah juga. Mau beli apa, mau belajar bagaimana? Warga kini sangat bergantung pada kiriman sembako dari luar.

Masalah lainnya yang sangat mendasar: air bersih. Sumbernya tercemar, aksesnya terhambat. Tak heran, banyak orang terpaksa beraktivitas dengan badan dan pakaian yang masih belepotan lumpur. Bayangkan saja, untuk mandi atau minum saja susahnya setengah mati.

Namun begitu, di tengah kepiluan ini, ada secercah harapan. Bantuan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun dari kelompok masyarakat dan swasta, terus berdatangan. Meski lambat, upaya pemulihan perlahan mulai terlihat.

Bagi warga yang sudah lama tinggal di sini, bencana ini meninggalkan kesan yang sangat dalam. Seperti yang diungkapkan Rahman, seorang warga setempat.

"Ini yang terparah sejak enam belas tahun lalu," katanya, sambil matanya memandang jauh ke arah bukit. "Lumpur dari gunung kebawa turun ke bawah semua. Habis semuanya."

Ucapannya singkat, tapi menggambarkan betapa dahsyatnya amukan alam yang mereka alami. Aceh Tamiang masih panjang jalan menuju normal. Butuh waktu, dan yang lebih penting, bantuan yang tak hanya datang sekali, tapi terus berkelanjutan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar