Sudah lebih dari seminggu berlalu, tapi lumpur masih di mana-mana. Aceh Tamiang, kabupaten yang diterjang banjir dan longsor hebat sejak Rabu pekan lalu, masih terlihat seperti medan perang yang basah. Situasi hingga Selasa ini, jujur saja, belum bisa dibilang pulih.
Jalan-jalan utama lebih mirip aliran coklat kental. Mobil dan motor yang terseret arus masih berserakan di pinggir, teronggok begitu saja, seolah menunggu kesabaran untuk diangkut. Yang lebih memilukan, banyak rumah warga nyaris rata dengan tanah. Hancur.
Di tengah kondisi itu, kantor Bupati pun terpaksa beralih fungsi. Ruang kerja berubah jadi posko pengungsian, tempat warga yang kehilangan segalanya berteduh. Aktivitas sehari-hari lumpuh total. Pasar tutup, sekolah-sekolah juga. Mau beli apa, mau belajar bagaimana? Warga kini sangat bergantung pada kiriman sembako dari luar.
Masalah lainnya yang sangat mendasar: air bersih. Sumbernya tercemar, aksesnya terhambat. Tak heran, banyak orang terpaksa beraktivitas dengan badan dan pakaian yang masih belepotan lumpur. Bayangkan saja, untuk mandi atau minum saja susahnya setengah mati.
Artikel Terkait
21 Terdakwa Kerusuhan DPR Divonis Pengawasan, Bebas dari Jeruji
Welas Asih yang Sejati Lahir dari Tubuh yang Tenang, Bukan Paksaan Moral
Rapat Darurat PBNU Pulihkan Posisi Gus Yahya sebagai Ketua Umum
Kaban Soroti Eksploitasi Hutan dan Penegakan Hukum yang Lembek