Rizal Fadhillah Beri Peringatan Keras: Tangkap Jokowi atau Hadapi Gelombang Revolusi

- Selasa, 09 Desember 2025 | 05:25 WIB
Rizal Fadhillah Beri Peringatan Keras: Tangkap Jokowi atau Hadapi Gelombang Revolusi

Basmi Korupsi Atau Revolusi, Rizal Fadhillah: Tangkap Jokowi Dan Runtuhkan Oligarki

Hari Anti Korupsi Sedunia yang jatuh pada 9 Desember kemarin, diwarnai pernyataan keras dari pengamat politik Rizal Fadhillah. Dalam sebuah artikelnya, ia tak sungkan menyoroti posisi Indonesia di mata dunia. Menurutnya, negeri ini punya 'calon' kuat untuk mewakili kategori koruptor kelas dunia.

"Kalau mau dilombakan, Indonesia pantas mengajukan Jokowi," ujar Rizal, Selasa (9/12/2025).

Ia merujuk pada gelar 'finalis' Person of the Year in Corruption yang disematkan Organization Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) akhir tahun lalu. Investigasi jaringan jurnalis internasional itu, kata dia, dibaca oleh 50 media independen di enam benua.

"Tentu kita tidak bangga. Malah malu betul. Kebobrokan negara kita ternyata terbaca jelas oleh komunitas global," tambahnya. Kerja sama dengan jurnal lokal disebut semakin menguatkan data temuan mereka.

Rizal lalu membeberkan peta korupsi dalam negeri. Ia menyebut Jokowi bagai 'raja korupsi' yang dikelilingi menteri-menteri terpidana. Namanya disebut: Eddy Prabowo (Gerindra), Idrus Marham (Golkar), Imam Nahrowi (PKB), Yasin Limpo (Nasdem), Johnny G Plate (Nasdem), dan Juliari Batubara (PDIP).

"Korupsi dipakai untuk mencengkeram partai politik. Sementara, kasusnya sendiri kebal hukum. KPK, Kejagung, dan Polri jadi pelindung sang maestro," tegas Rizal.

Menurut penelusurannya, jejak ini bisa dilacak jauh ke belakang. Dari masa kepemimpinan Jokowi di Surakarta, lalu Jakarta, hingga menjadi presiden. Ia mencontohkan pelepasan aset Hotel Maliyawan tanpa persetujuan DPRD yang menguntungkan dirinya dan pemilik PT Sritex. Lalu, ada duplikasi data dana pendidikan BPMKS dan proyek pengadaan bus Transjakarta yang disebut mengalirkan uang ke kantong gubernur saat itu.

Masa kepresidenan pun dinilai tak bersih. "PSN, IKN, PIK, Rempang, Whoosh, Covid-19, bansos, sampai nikel dan batubara... mana ada yang bebas bocor?" tanyanya retoris.

Aliran dana ke keluarga dan rekening tersembunyi diduga kuat. "Kesederhanaan Jokowi itu cuma topeng. Wajah palsu dari kekayaan yang sebenarnya," ungkap Rizal.

Bahkan usai lengser, ruang korupsi disebut belum tertutup. Rizal menyoroti rumah pensiun mewah di Colomadu seluas 12.000 meter persegi. Didapatkan lewat manipulasi lahan, aturan, dan pagu anggaran yang samar. "Ini kongkalikong antara Presiden, Menkeu, dan Mensesneg. Mungkin dianggap sebagai 'hasil akhir' dari segala keserakahan," paparnya.

Ia lalu melontarkan pertanyaan pedas. "Kalau petinggi TNI-Polri sudah jadi kapitalis, menteri jadi borjuis, lalu presidennya jadi apa?"

"Jawabannya, raja korupsi. Bukan lagi potensial, tapi memang sudah jadi raja. Dunia sudah melihat. KPK harus bekerja. Sang raja layak diadili dan dijebloskan ke penjara," tegasnya tanpa ragu.

Di sisi lain, Rizal menangkap gelombang kemarahan yang kian meluas. Teriakan "ganyang Jokowi" mulai kerap terdengar. Penderitaan rakyat, katanya, menuntut balasan.

Ia mengingatkan, kegagalan memberantas korupsi bisa berujung pada konsekuensi yang lebih keras. Bahkan revolusi.

"Pilihan bangsa sekarang semakin sempit. Hanya ada dua: basmi korupsi, atau kita hadapi revolusi. Dan itu harus dimulai dari menangkap Jokowi, meruntuhkan oligarki di sekitarnya," tandasnya menutup pernyataan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar