Sabtu lalu, tepat di Hari Menanam Pohon, suasana di beberapa titik di Indonesia tampak berbeda. Relawan dari Muhammadiyah sibuk menggali tanah, menyiapkan bibit, dan menanam harapan. Mereka melaksanakan aksi penanaman pohon langka secara serentak, sebuah gerakan yang jadi bagian dari "Kado Hijau Milad Muhammadiyah". Lokasinya tersebar di Lebak (Banten), Mataram (NTB), Kendari (Sultra), dan Gunungkidul (DIY). Rencana awal sebenarnya mencakup Sumatera Utara juga, tapi sayangnya, banjir memaksa kegiatan di sana ditunda.
Menurut sejumlah saksi, antusiasme peserta cukup tinggi. Unsur pendidikan Muhammadiyah, mulai dari kampus sampai sekolah, jadi tulang punggung aksi ini. Mereka tak menanam di sembarang tempat. Semua kegiatan dipusatkan di tanah wakaf dan aset milik persyarikatan Muhammadiyah sendiri. Jadi, selain menghijaukan, mereka juga menghidupkan fungsi ekologis aset yang dimiliki.
Lalu, pohon apa yang ditanam? Ini bukan pohon biasa. Bibitnya disuplai oleh Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), terdiri dari jenis-jenis yang nyaris punah dan punya nilai konservasi tinggi. Beberapa bahkan endemik daerah setempat, yang populasinya terus tergerus alih fungsi lahan. Dengan memilih spesies langka, Muhammadiyah jelas ingin ambil peran nyata dalam menjaga keanekaragaman hayati kita yang semakin terancam.
Di sisi lain, banjir di Sumatera Utara jadi pengingat bahwa alam punya caranya sendiri. Penundaan di sana, meski disayangkan, adalah langkah wajib. Keselamatan relawan dan warga harus diutamakan.
“Kegiatan ini adalah ikhtiar nyata Muhammadiyah untuk mitigasi perubahan iklim dan konservasi hutan,” ujar M. Azrul Tanjung, Ketua MLH PP Muhammadiyah, pada Selasa (2/12/2025).
Ia menegaskan, menanam pohon bukan sekadar seremoni belaka. Ini adalah strategi jangka panjang.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar