Jakarta - Suasana di ruang konferensi pers terasa tegang, diwarnai pertanyaan-pertanyaan seputar stabilitas harga energi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan tegas memproyeksikan bahwa harga BBM non-subsidi di dalam negeri bakal bergejolak. Pemicunya? Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kian memanas.
Menurut Bahlil, dampak utamanya berasal dari penutupan Selat Hormuz. Jalur sempit itu memang vital, jadi gerbang distribusi minyak global. Begitu ditutup, otomatis rantai pasok energi internasional kacau. Alhasil, harga minyak mentah dunia langsung meroket. Dan itu, ujung-ujungnya berpengaruh ke kita.
"Tetapi kalau untuk non-subsidi, artinya harga pasar, dia akan fluktuasi berdasarkan dinamika harga pasar yang ada," jelas Bahlil, Selasa (3/3/2026).
Ia menambahkan, mekanisme seperti ini sebenarnya sudah berjalan. Bukan hal baru. Aturannya sendiri sudah ada sejak 2022 lewat peraturan menteri. "Bahwa harga itu bisa, kalau yang non-subsidi itu bisa terjadi dinamika," ujarnya lagi. Intinya, wajar saja kalau nanti harganya naik-turun. Itu sudah konsekuensi logis dari sistem pasar yang diterapkan.
Lalu bagaimana dengan BBM subsidi? Di sinilah pemerintah memberi kepastian. Bahlil menyebut hingga rapat terakhir, belum ada pembahasan sama sekali soal menaikkan harga BBM jenis ini. Pemerintah, katanya, masih menanggung gejolak harganya.
"Sampai dengan kami rapat tadi, belum ada. Jadi aman-aman saja, hari raya yang baik, puasa yang baik, insyaallah belum ada kenaikan harga BBM," tutur Bahlil meyakinkan.
Artinya, untuk Pertalite dan Solar bersubsidi, harganya akan tetap di angka yang sekarang. Berapapun kenaikan harga minyak dunia, negara yang akan menanggung selisihnya. Pertalite bertahan di Rp10.000 per liter, sementara Solar subsidi Rp6.800.
"Kalau harga yang disubsidi, yang bensin, pertalite, itu mau naik berapa pun tetap harganya sama. Sebelum ada perubahan dari pemerintah," tegasnya.
Jadi, meski situasi geopolitik memicu kekacauan di pasar minyak global, publik tak perlu khawatir berlebihan. Harga BBM subsidi masih aman setidaknya untuk saat ini. Pemerintah memastikan perlindungan itu, sambil bersiap menghadapi gejolak pada harga-harga BBM non-subsidi yang memang mengikuti irama pasar dunia.
Artikel Terkait
Uber Siapkan Rp170 Triliun untuk Percepatan Layanan Taksi Otonom
Gelombang Pertama 322 Petugas Haji Diberangkatkan ke Madinah
PSIM Yogyakarta Terpaksa Main di Bali Tanpa Penonton Lawan Persija
PM Anwar Konfirmasi Negosiasi Petronas dengan Rusia untuk Jamin Pasokan Minyak