“Melalui penanaman pohon langka, kita membantu memulihkan kawasan kritis sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Azrul juga menyebut bahwa kegiatan di Sumut akan dijadwalkan ulang begitu kondisi membaik. Itu janjinya.
Di lokasi-lokasi lain, aksi tanam ini dibarengi dengan sosialisasi. Peserta, termasuk banyak pelajar, diedukasi tentang ciri-ciri pohon langka, manfaatnya bagi lingkungan, dan cara merawatnya agar tumbuh subur. Harapannya, pengetahuan ini tak berhenti di teori.
Gerakan ini sebenarnya punya napas yang lebih panjang. Ia dirancang sebagai gerakan nasional yang melibatkan semua unsur di tubuh Muhammadiyah. Targetnya jelas: bukan sekadar menanam, tapi juga merawat dan memantau pertumbuhan pohon-pohon itu ke depannya.
Pada akhirnya, bagi Muhammadiyah, ini lebih dari sekadar penghijauan. Ini adalah bentuk dakwah untuk menjaga ciptaan Tuhan. Di tengah krisis iklim yang makin terasa, membangun kesadaran kolektif untuk menjaga keseimbangan alam adalah sebuah keharusan. Momentum dari aksi serentak ini diharapkan bisa menguatkan aksi lingkungan berbasis komunitas dan mempertegas kontribusi mereka untuk bumi yang lebih berkelanjutan.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar