Ramadhan 2026. Di tengah hiruk-pikuk persaingan di liga-liga top Eropa, bulan suci ini tetap menjadi momen sakral. Hal itu juga dirasakan oleh para pemain Muslim di klub raksasa Spanyol, Real Madrid. Menyeimbangkan tuntutan fisik yang amat berat dengan kewajiban beribadah? Tentu bukan perkara mudah. Namun, mereka menjalaninya dengan penuh keyakinan.
Setidaknya, ada empat nama di skuad Los Blancos yang teguh menjalankan puasa tahun ini. Mereka berasal dari berbagai penjuru dunia, membawa cerita dan latar belakang yang unik.
Pertama, sosok yang tak diragukan lagi komitmennya: Antonio Rudiger. Bek tengah berusia 33 tahun ini adalah pilar penting di lini belakang Madrid. Rudiger, yang berdarah Jerman dan Sierra Leone, dikenal sebagai Muslim yang taat. Sepanjang kariernya, dari Chelsea hingga pindah ke Madrid pada 2022, ia rutin menjalankan salat berjamaah. Sayangnya, musim ini diwarnai kesialan. Cedera beruntun membuatnya kerap absen dan memperumit persaingan untuk mendapatkan tempat di starting eleven.
Lalu ada Brahim Diaz. Penyerang sayap berusia 26 tahun ini punya cerita menarik. Meski lahir di Malaga, Spanyol, darah Maroko mengalir kuat dalam dirinya, begitu pula dengan identitas keislamannya.
Baru-baru ini, Diaz terlihat hangat berbaur dengan komunitas Maroko dalam acara buka puasa bersama di Pusat Kebudayaan Islam Madrid. Suasana kekeluargaan itu jelas memberinya energi tersendiri.
Di lapangan, persaingan untuk bermain memang ketat. Tapi di sela jadwal kompetisi yang padat, Diaz tetap konsisten menunaikan ibadah puasa.
Nama ketiga mungkin adalah yang paling bersinar belakangan: Arda Guler. Wonderkid asal Turki ini tak cuma memukau lewat teknik individunya. Kepribadian religiusnya juga mencuri perhatian. Perhatikan saja selebrasi golnya yang ikonik, mengangkat jari telunjuk ke langit. Bagi Guler yang masih 21 tahun itu, itu adalah pengingat bahwa segala pencapaian datang atas izin Allah SWT.
Perlahan tapi pasti, musim ini Guler mulai menjelma menjadi pemain penting. Hingga pekan ke-26 Liga Spanyol 2025/2026, pelatih sudah mempercayainya sebagai starter sebanyak 21 kali. Itu pencapaian yang luar biasa untuk usianya.
Terakhir, Ferland Mendy. Bek kiri berusia 30 tahun asal Prancis ini adalah seorang mualaf yang taat. Sejak bergabung dengan Madrid pada 2019, ia selalu berusaha menjaga keseimbangan antara karier dan keyakinannya. Tahun ini pun ia jalani puasa dengan tekun, meski harus berjuang ekstra menjaga kondisi fisik.
Namun begitu, nasib lagi-lagi tak berpihak. Cedera parah yang dialaminya justru membuatnya lebih sering menyaksikan pertandingan dari luar lapangan. Situasi yang tentu menantang kesabarannya.
Keempat pemain ini, dengan segala dinamikanya, adalah bukti nyata. Di panggung sepak bola elit sekalipun, spiritualitas dan profesionalisme bisa berjalan beriringan. Mereka berpuasa, mereka berkompetisi, dan mereka tetap berusaha memberi yang terbaik untuk klub. Itulah perjuangan ganda yang layak diapresiasi.
Artikel Terkait
LPEI Salurkan Rp13,7 Triliun Kredit ke Industri, Jatim Serap Seperempatnya
Operasi Gabungan Angkut 7 Ton Ikan Sapu-sapu dari Perairan Jakarta
Iran Buka Selat Hormuz untuk Kapal Sipil dengan Rute Tertentu, Larang Kapal Perang Asing
Program Makan Bergizi Tembus 27 Ribu Titik Layanan dan Libatkan 1,18 Juta Relawan