Gempa, Banjir, Letusan: Bencana atau Cermin Kelalaian Kita?

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 17:25 WIB
Gempa, Banjir, Letusan: Bencana atau Cermin Kelalaian Kita?

Benarkah Ada Bencana Alam?

Membaca Musibah dengan Tiga Lensa: Geologi, Sosial, dan Iman

Oleh: Asruri Muhammad
(Pegiat Dakwah Muhammadiyah)

Kita sering mendengarnya. Bahkan mungkin mengucapkannya setiap hari. "Bencana alam." Kata itu begitu mudahnya meluncur dari pemberitaan media, dokumen resmi, hingga percakapan warung kopi. Ada gempa? Langsung disebut bencana. Banjir melanda? Itu bencana. Gunung meletus? Bencana lagi.

Tapi, coba kita berhenti sejenak. Menurut sejumlah ahli, istilah itu sebenarnya bermasalah. Baik jika dilihat dari kacamata ilmu bumi maupun ajaran Islam. Alam sendiri sejatinya tak punya niat jahat. Gempa, hujan deras, atau letusan gunung adalah peristiwa alamiah belaka, bagian dari hukum Allah yang berjalan. Lantas, apa yang mengubahnya jadi "bencana"? Jawabannya justru ada pada kita, manusia. Kerentanan kita, tata ruang yang amburadul, bangunan yang rapuh, dan sikap kita yang sering lalai menjaga bumi.

Karena itulah, untuk benar-benar paham, kita butuh melihatnya dari tiga sudut pandang sekaligus: geologis, sosiologis, dan religius. Ketiganya saling melengkapi, tak bisa dipisah-pisah.

Pandangan Geologi: Proses yang Wajar, Bukan Malapetaka

Dalam dunia geologi modern, Anda tak akan menemukan istilah natural disaster. Yang ada adalah natural hazard fenomena alam yang punya potensi bahaya. Bedanya tipis, tapi penting.

Fenomena seperti gempa bumi atau gunung meletus sudah terjadi jauh sebelum manusia menginjakkan kaki di planet ini. Bagi para geolog, ini bukan musibah. Ini hanyalah dinamika normal Bumi yang sedang bernapas. Jadi, fokusnya bukan pada melawan alam, tapi pada bersiap menghadapinya.

Pendekatannya pun sangat teknis dan nyata. Misalnya dengan pemetaan zona rawan untuk jadi dasar pembangunan, menerapkan standar bangunan tahan gempa, atau memasang sistem peringatan dini untuk tsunami dan banjir. Rehabilitasi lingkungan, seperti menanam kembali hutan, juga bagian dari solusi ini.

Intinya, dari kaca mata geologi, yang jadi soal bukan proses alamnya. Melainkan ketidaksiapan kita sendiri.

Sudut Pandang Sosiologi: Bencana adalah Cermin Kerentanan Kita

Nah, di sinilah perspektif sosiologi masuk. Ia menegaskan bahwa bencana pada hakikatnya adalah peristiwa sosial. Bukan sekadar gejala fisik. Coba bayangkan, gempa besar di gurun pasir yang tak berpenghuni mungkin tak meninggalkan cerita. Sebaliknya, gempa kecil di permukiman kumuh dengan rumah berjejal bisa berakhir tragis.

Artinya, bencana terjadi ketika bahaya alam (hazard) bertemu dengan kerentanan sosial (vulnerability).

Kerentanan itu bisa muncul dari banyak hal. Kemiskinan, misalnya. Lalu pemukiman liar di bantaran sungai, tata kota yang abai pada risiko, atau pendidikan kebencanaan yang minim.

Solusinya pun bersifat sosial. Membangun literasi lewat simulasi di sekolah dan masjid, memperkuat komunitas lokal dengan membentuk kampung siaga, menegakkan aturan tata ruang yang ketat, dan tentu saja, pemberdayaan ekonomi. Logikanya sederhana: masyarakat yang sejahtera biasanya lebih tangguh.

Singkatnya, bencana seringkali adalah buah dari kegagalan kita mengelola kehidupan.

Lensa Religius-Islami: Musibah, antara Peringatan dan Ujian

Islam menawarkan cara pandang yang lebih dalam. Menariknya, Al-Qur'an tak pernah menyebut frasa "bencana alam". Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 108, yang intinya menyatakan Dia tidak menzalimi hamba-Nya. Jadi, istilah itu sendiri agak janggal dalam bahasa wahyu.

Yang ada adalah konsep-konsep lain: musibah (ujian hidup), fitnahtanzir (peringatan), atau azab (hukuman bagi kaum yang durhaka). Satu peristiwa bisa mengandung makna berbeda bagi tiap orang atau kelompok. Ia bukan hanya soal fisik, tapi juga ajakan untuk introspeksi secara spiritual.

Dalam Islam, alam semesta adalah ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah yang harus dibaca. Mempelajari geologi atau mitigasi bencana justru adalah bentuk dari pembacaan itu.

Di sisi lain, agama ini juga melarang keras perusakan bumi. Menebang hutan sembarangan atau menimbun daerah resapan bukan cuma kesalahan teknis, tapi juga dosa ekologis, seperti yang diingatkan dalam QS. Al-Baqarah.

Bahkan istighfar punya dimensi protektif. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Anfal: 33, yang intinya Allah tak akan mengazab suatu kaum selama mereka masih beristighfar. Tapi istighfar di sini bukan cuma di lisan. Ia mesti terwujud dalam perbuatan: jujur, amanah, dan menjaga lingkungan.

Dan jangan lupa, menjaga nyawa (hifzh an-nafs) adalah tujuan utama syariah. Maka, aktivitas seperti pelatihan evakuasi atau kerja bakti relawan SAR, itu semua adalah ibadah sosial yang nyata.

Menyatukan Tiga Perspektif

Kalau ketiga pandangan ini kita satukan, gambaran yang utuh akan muncul. Geologi membantu kita paham apa yang terjadi dan bagaimana prosesnya. Sosiologi menerangkan mengapa dampaknya bisa begitu parah di suatu komunitas. Sementara Islam memberikan makna, etika, dan kompas moral agar kita tetap rendah hati dan adil terhadap bumi.

Jadi, istilah "bencana alam" mungkin cuma penyederhanaan bahasa yang keliru. Alam tak pernah berniat jahat. Yang mengubah fenomena jadi bencana seringkali adalah kelalaian kita: lengah, merusak lingkungan, dan lupa akan amanah sebagai khalifah.

Dengan merangkul ketiga perspektif ini, barulah kita bisa membangun ketangguhan yang sejati: tangguh secara ilmu, kuat secara kebersamaan, dan matang secara spiritual. Itulah fondasi sebenarnya untuk menghadapi segala ujian hidup, musibah atau bukan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler