Gempa, Kelangkaan, dan Tagihan Dosa Ekonomi yang Tak Kunjung Lunas

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 19:50 WIB
Gempa, Kelangkaan, dan Tagihan Dosa Ekonomi yang Tak Kunjung Lunas

DI NEGERI YANG RETAK, DOSA-DOSA LAMA MENAGIH BAYARAN

Airmata doa bagi saudaraku di Sumbagut

Alen Y. Sinaro
Alumnus Pasca-sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Bencana punya caranya sendiri. Di satu tempat, ia datang dengan brutal. Tiba-tiba saja tanah bergerak, seolah bosan menanggung beban. Rumah-rumah ambruk berantakan. Sungai yang biasa mengalir tenang berubah jadi amukan. Lalu, yang tersisa cuma kehilangan. Air bersih dan makanan jadi barang langka, sementara malam terasa panjang sekali. Di titik itu, pertanyaan "mengapa" terasa tak berguna. Jawaban apapun terlalu kecil.

Namun begitu, di tengah semua reruntuhan itu, mata mereka masih mencari langit. Bukan untuk menantang, tapi untuk berserah. Saat segalanya tanah, air, udara seolah berkhianat, satu hal tak ikut runtuh: keyakinan bahwa Allah masih ada. Doa-doa pun meluncur, mungkin dengan suara gemetar, tapi harapannya tak pernah padam.

Di tempat lain, bencananya beda sifat. Tak ada gemuruh atau tanah longsor. Yang ada justru kelangkaan yang merayap pelan, licik. Ia menyusup dari dapur ke dompet. Gas elpiji menghilang, stok beras menipis, air keran mengering. Listrik mati dan hidup tak menentu. Kelangkaan model begini tak mengaum. Ia hanya menyentuh, mengiris pelan-pelan, sampai manusia retak tanpa mereka sadari.

Lalu, di balik semua ini, ada wajah yang sering kita hindari untuk dilihat.

Mereka adalah para pelaku ekonomi yang tega merampas masa depan demi laba. Hutan ditebang, tanah digerus, sungai dikeringkan. Keseimbangan alam yang seharusnya jadi rumah kita bersama, diacak-acak begitu saja. Mereka memanen keuntungan besar-besaran, lalu pergi. Yang ditinggalkan? Langit yang semakin murka dan bumi yang kelelahan.

Parahnya, saat bencana datang, merekalah yang paling jago bersembunyi. Bersembunyi di balik kata-kata indah tentang pembangunan. Padahal, ini bukan cuma soal takdir alam belaka. Ini lebih mirip tagihan. Tagihan dari dosa-dosa lama yang dilakukan secara rapi, legal, dan penuh perhitungan. Di lokasi bencana, mereka tak terlihat. Tapi di kota yang selamat namun rapuh, merekalah dalang di balik kelangkaan yang tiba-tiba dianggap "wajar".

Jadi, di kedua sisi dunia itu yang hancur dan yang rapuh manusia akhirnya dipaksa mengakui satu hal. Kerusakan dunia ini bukan cuma karena gempa bumi. Penyebab utamanya adalah keserakahan kita sendiri yang tak pernah puas. Alam mengamuk bukan karena ia jahat, tapi karena ia dipaksa dan dieksploitasi terlalu lama.

Nanti, ketika air sudah surut dan lampu kembali menyala, kesadaran keras kepala itu akan tetap ada. Kita cuma penumpang di bumi ini. Dan setiap kelalaian, pada akhirnya, akan dibayar tunai.

Dalam gelap dan getir hidup, dalam segala kelangkaan, ternyata cuma satu tempat bersandar yang tak berubah oleh ulah kita: Allah. Dialah saksi bisu atas semua kehancuran yang kita buat. Dan, barangkali, Dialah juga satu-satunya harapan untuk bangkit dari reruntuhan itu semua.

Menunduk atau menengadah,
Langit tak 'kan peduli padamu
Semua hanya pada bumi
Yang selama ini kita lukai!

Franky & Jane

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar