DI NEGERI YANG RETAK, DOSA-DOSA LAMA MENAGIH BAYARAN
Airmata doa bagi saudaraku di Sumbagut
Alen Y. Sinaro
Alumnus Pasca-sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta
Bencana punya caranya sendiri. Di satu tempat, ia datang dengan brutal. Tiba-tiba saja tanah bergerak, seolah bosan menanggung beban. Rumah-rumah ambruk berantakan. Sungai yang biasa mengalir tenang berubah jadi amukan. Lalu, yang tersisa cuma kehilangan. Air bersih dan makanan jadi barang langka, sementara malam terasa panjang sekali. Di titik itu, pertanyaan "mengapa" terasa tak berguna. Jawaban apapun terlalu kecil.
Namun begitu, di tengah semua reruntuhan itu, mata mereka masih mencari langit. Bukan untuk menantang, tapi untuk berserah. Saat segalanya tanah, air, udara seolah berkhianat, satu hal tak ikut runtuh: keyakinan bahwa Allah masih ada. Doa-doa pun meluncur, mungkin dengan suara gemetar, tapi harapannya tak pernah padam.
Di tempat lain, bencananya beda sifat. Tak ada gemuruh atau tanah longsor. Yang ada justru kelangkaan yang merayap pelan, licik. Ia menyusup dari dapur ke dompet. Gas elpiji menghilang, stok beras menipis, air keran mengering. Listrik mati dan hidup tak menentu. Kelangkaan model begini tak mengaum. Ia hanya menyentuh, mengiris pelan-pelan, sampai manusia retak tanpa mereka sadari.
Lalu, di balik semua ini, ada wajah yang sering kita hindari untuk dilihat.
Artikel Terkait
Moving: Drama Superhero Korea yang Curi Perhatian dan Raih Daesang
Korban Penjambretan di Sleman Berbalik Jadi Tersangka Usai Kejar Pelaku
Dahlan Iskan Ungkap Kerugian Rp2 Triliun Akibat Guncangan Harga Batu Bara
Potret Pahit Pendidikan Indonesia: Skor TKA 2025 Buka Mata dan Jurang Antardaerah