“Di atas hujannya besar, di sini kecil. Dulu tidak pernah seperti ini,” ujarnya.
Namun begitu, Taupik curiga ada faktor lain yang memperparah keadaan. Ia menyoroti perubahan fungsi lahan di kawasan atas yang menurutnya membuat air langsung meluncur deras ke bawah tanpa ada yang menahan.
“Sekarang banyak lahan dibebaskan dan dibiarkan, jadi air langsung turun,” tambahnya.
Data sementara menempatkan Lembah Curugan dan kolam ikannya sebagai lokasi yang paling parah terdampak. Kabar baiknya, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Meski begitu, kerugian material yang diderita dipastikan mencapai angka yang tidak sedikit. Pemandangan yang dulu asri kini tinggal kenangan, setidaknya untuk sementara waktu.
Artikel Terkait
SulawesiPos.com Gelar Buka Puasa Bersama Pembaca, Fatayat NU Apresiasi Ruang bagi Perempuan
Gunung Semeru Erupsi, Abu Membubung 1.000 Meter, Status Siaga Dipertahankan
Kemlu Tegaskan Arab Saudi Belum Umumkan Perubahan Haji 2026
SulawesiPos Gelar Buka Puasa Bersama dan Dialog dengan Dewan Pembaca di Makassar