tambahnya.
Harapan Warga yang Terpendam
Sebagai warga yang tinggal di sana, Suparni sebenarnya risi. Lokasi itu ramai oleh anak-anak bermain dan para lansia yang beraktivitas. Bau tak sedap kerap menyengat, apalagi saat musim hujan tiba dan ulet-ulet berdatangan.
“Penginnya dibersihin sih. Saya keberatan juga kena hawa baunya,”
ungkapnya. Ia berharap ada alat atau cara untuk mengolah cangkang itu jadi sesuatu yang bernilai. Atau setidaknya, ada yang mengangkutnya agar tak terus menumpuk. Kekhawatiran serupa diungkapkan Sani, ibu muda beranak dua tahun. Ia takut belatung, lalat, dan tikus yang mungkin datang mengganggu kesehatan buah hatinya.
“Penginnya dibersihin soalnya juga kan ngundang lalat kecil. Gak enak ya, kalau lagi sama anak juga suka nemplok di makanan,”
keluhnya.
Dampak yang Mengintai
Persoalannya tentu bukan sekadar pemandangan atau bau. Ada risiko kesehatan yang nyata. Seorang praktisi kesehatan masyarakat, dr. Ngabila Salama, pernah memaparkan bahaya limbah cangkang kerang terutama jika menumpuk di kawasan permukiman padat seperti ini.
Dampak jangka pendeknya bisa berupa keracunan gas hidrogen sulfida yang keluar dari cangkang membusuk. Untuk jangka panjang, timbunan itu bisa memicu penyakit kulit, diare, gastroenteritis, hingga leptospirosis dan kolera. Belum lagi jadi sarang nyamuk penyebab DBD dan chikungunya. Ancaman yang sebenarnya tak main-main, namun seolah tenggelam di antara gunungan cangkang dan rutinitas warga yang terus berjalan.
Artikel Terkait
Antrean Kendaraan Mulai Mengular di Bakauheni Jelang Puncak Arus Balik Lebaran
Semifinal Lomba Domino IKATSI Unhas Berlangsung Sengit di Unhas Hotel
Harga Emas Batangan di Pegadaian Masih Stabil di Awal Pekan
Hiu Penjemur Raksasa Muncul di Perairan Dekat Pelabuhan Makassar