Mantan Penyidik KPK Buka Suara: Alat Usang Hambat Operasi Tangkap Tangan

- Senin, 02 Februari 2026 | 08:00 WIB
Mantan Penyidik KPK Buka Suara: Alat Usang Hambat Operasi Tangkap Tangan
Respons Mantan Penyidik Soal Anggaran Alat KPK

Mantan Penyidik KPK Anggap Wajar Permintaan Alat Canggih untuk OTT

[Ilustrasi: Gedung KPK]

Permintaan KPK soal anggaran untuk peralatan mutakhir buat operasi tangkap tangan mendapat respons. Menurut mantan penyidiknya, alasan di balik permintaan itu cukup kuat.

Praswad Nugraha, mantan penyidik KPK, bicara blak-blakan. Modus koruptor, katanya, makin canggih aja. Nah, kalau alat yang dipakai penyidik nggak diperbarui, ya bisa-bisa operasi malah tersendat. Itu intinya.

"Berkembangnya modus operandi dan dukungan alat komunikasi yang dimiliki koruptor tanpa diimbangi pembaharuan alat maka akan menghambat pelaksanaan OTT," ujar Praswad dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).

Dia nggak setengah-setengah. Permintaan alat baru itu harusnya dipenuhi, apalagi korupsi selalu disebut sebagai musuh bersama. Di sisi lain, bagi Praswad, dukungan alat ini bukan cuma perkaraan teknis semata. Lebih dari itu.

"Dukungan alat tersebut juga merupakan representasi dari komitmen politik pemerintahan dalam pemberantasan korupsi," tegasnya.

Dia optimis. Kalau saja KPK dapat peralatan yang lebih bagus, operasi senyap bisa lebih sering digelar. Bahkan, Praswad menyebut angka yang cukup spesifik.

"Kami optimistis, jika KPK diberikan dukungan alat yang lebih canggih, KPK dapat melaksanakan OTT setidak-tidaknya 30 kali per tahun," ucapnya.

Sebelumnya, memang KPK sudah mengutarakan hal serupa. Dalam sebuah rapat dengan Komisi III DPR RI di Senayan, Rabu (28/1/2026), Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto mengeluh. Hambatan terbesar selain SDM, ya alat. Alat yang ada sekarang ini, menurutnya, kurang canggih dan sudah ketinggalan zaman.

“Apa sih sebenernya hambatan paling besar yang di KPK selain tentang SDM yang kurang?” kata Fitroh dalam rapat itu.

Lanjut dia, “Ya berikanlah kami alat yang canggih, supaya OTT tidak hanya satu sebulan.”

Pesan Fitroh ke anggota DPR waktu itu jelas. Kalau anggaran buat beli alat ditingkatkan, operasi tangkap tangan bisa lebih masif lagi. “Kurang canggih, Pak, kurang canggih. Ini sudah tidak up to date,” ujarnya.

Jadi, inti pembicaraan dari dua sisi ini sama: butuh senjata baru untuk lawan koruptor yang makin lihai. Tinggal sekarang, bagaimana realisasinya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler