Dia optimis. Kalau saja KPK dapat peralatan yang lebih bagus, operasi senyap bisa lebih sering digelar. Bahkan, Praswad menyebut angka yang cukup spesifik.
"Kami optimistis, jika KPK diberikan dukungan alat yang lebih canggih, KPK dapat melaksanakan OTT setidak-tidaknya 30 kali per tahun," ucapnya.
Sebelumnya, memang KPK sudah mengutarakan hal serupa. Dalam sebuah rapat dengan Komisi III DPR RI di Senayan, Rabu (28/1/2026), Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto mengeluh. Hambatan terbesar selain SDM, ya alat. Alat yang ada sekarang ini, menurutnya, kurang canggih dan sudah ketinggalan zaman.
“Apa sih sebenernya hambatan paling besar yang di KPK selain tentang SDM yang kurang?” kata Fitroh dalam rapat itu.
Lanjut dia, “Ya berikanlah kami alat yang canggih, supaya OTT tidak hanya satu sebulan.”
Pesan Fitroh ke anggota DPR waktu itu jelas. Kalau anggaran buat beli alat ditingkatkan, operasi tangkap tangan bisa lebih masif lagi. “Kurang canggih, Pak, kurang canggih. Ini sudah tidak up to date,” ujarnya.
Jadi, inti pembicaraan dari dua sisi ini sama: butuh senjata baru untuk lawan koruptor yang makin lihai. Tinggal sekarang, bagaimana realisasinya.
Artikel Terkait
Prabowo Ingatkan Ancaman Perang Dunia Ketiga dan Serukan Kemandirian Indonesia
Konsistensi Sunyi: Kekuatan Tersembunyi di Balik Langkah-Langkah Kecil
Polisi Penjual Es Gabus Bebas dari Dugaan Pukul, Tapi Masih Kena Sanksi Komunikasi
Prabowo Peringatkan Dampak Mengerikan Perang Nuklir: Ikan Kita Bisa Terkontaminasi