Ketika Urusan Dipegang Bukan oleh Ahlinya: Sebuah Ancaman Nyata

- Jumat, 05 Desember 2025 | 18:40 WIB
Ketika Urusan Dipegang Bukan oleh Ahlinya: Sebuah Ancaman Nyata

Bila Suatu Urusan Diserahkan Kepada yang Bukan Ahlinya

Pernah dengar ungkapan klasik, "amanah itu berat"? Rasanya kita semua sepakat. Tapi apa jadinya kalau amanah itu justru disia-siakan? Lebih parah lagi, diberikan ke tangan yang salah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sesuatu yang membuatnya penasaran.

« إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ »

“Kalau amanah udah disia-siakan,” kata Nabi, “ya bersiaplah menunggu kehancuran.”

Mendengar itu, Abu Hurairah pun bertanya. “Menyia-nyiakan amanah itu seperti apa, ya Rasulullah?”

Jawaban beliau singkat, tapi dalem banget maknanya. Sampai sekarang masih relevan, bahkan terasa makin nyata.

« إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ ، فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ »

“Yaitu ketika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Nah, saat itulah, tunggulah kehancuran.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, nomor 6496. Ringkas, tapi isinya mengguncang.

Di sisi lain, kita sering melihat fenomena ini terjadi di sekitar. Ambil contoh di media sosial, ada cuitan yang nyelip menanggapi suatu peristiwa. Kurang lebih begini bunyinya:

Terus tiba-tiba jadi Menteri Kehutanan. Pantas saja negara ini rusak.

Cuitan itu, meski singkat, seolah menjadi gema modern dari sabda Nabi ribuan tahun lalu. Sebuah keluhan yang muncul karena melihat realita yang tak sejalan dengan prinsip keahlian.

Memang, melihat orang yang salah di posisi yang salah itu bikin frustasi. Rasanya kayak nyuruh montir bengkel untuk operasi jantung. Atau meminta seorang koki mengurus pesawat terbang. Hasilnya? Bisa ditebak. Kacau.

Nah, hadits ini bukan cuma soal kepemimpinan tingkat menteri atau presiden. Ia berlaku di semua lini. Di kantor, di komunitas, bahkan di rumah tangga. Intinya sama: penempatan yang keliru adalah benih kerusakan.

Jadi, pesannya jelas. Sebelum menyerahkan tanggung jawab, lihat dulu siapa yang menerima. Apakah dia ahlinya? Atau cuma sekadar orang yang kebetulan ada? Pilihannya menentukan nasib kita semua nantinya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar