“Deforestasi itu biasa. Negara lain juga menebang hutan.”
Memang benar. Rusia melakukannya. Brasil juga. China dan Kanada tak ketinggalan. Mereka semua menebang pohon.
Tapi, coba lihat lebih dalam. Perbedaannya ternyata mencolok. Mereka menebang hutan. Sementara kita, selain menebang hutan, sepertinya juga sedang asyik menebas logika.
Ambil contoh China. Negeri Tirai Bambu itu punya catatan kehilangan hutan yang cukup serius. Namun begitu, pasca penebangan, mereka justru melakukan aksi penanaman kembali yang luar biasa masif. Program seperti 'Great Green Wall Project' yang berjalan sejak 1978, atau restorasi Loess Plateau, bukan sekadar proyek di atas kertas. Mereka menanam miliaran pohon dengan disiplin yang ketat.
Hasilnya nyata. Erosi tanah di wilayah-wilayah yang direstorasi bisa ditekan hingga 70%. Badai debu dari Gurun Gobi tak separah dulu. Bahkan banjir besar di DAS Sungai Kuning yang dulu sering merajalela, sekarang jauh lebih terkendali. China membuktikan, kerusakan hutan bisa diperbaiki jika ada kemauan politik dan kapasitas birokrasi yang kuat.
Lalu bagaimana dengan Brasil? Negara ini memang menempati peringkat kedua dalam hal kehilangan hutan. Tapi ada satu periode penting, antara 2005 hingga 2014, di mana deforestasi di Amazon bisa ditekan hingga 80%. Kunci keberhasilannya? Penegakan hukum yang tegas oleh badan lingkungan IBAMA, dipadu dengan sistem pemantauan satelit real-time dan moratorium izin untuk perkebunan.
Dampaknya langsung terasa. Kebakaran hutan berkurang drastis. Debit Sungai Amazon lebih stabil. Emisi karbon pun anjlok. Brasil menunjukkan, dengan kebijakan yang keras dan konsisten, laju kerusakan bisa direm meski warisan masalahnya sangat besar.
Kasus Kanada juga menarik. Meski angka kehilangan hutannya tinggi, hampir seluruh kawasan hutan di sana dikelola sebagai hutan publik. Mereka punya aturan main yang jelas: reboisasi wajib pasca-tebang, rotasi penebangan yang ketat, dan pengelolaan berbasis ilmiah dengan perhitungan kuota tahunan yang ketat.
Alhasil, hutan yang ditebang hampir selalu kembali ditanami. Kanada tak mengalami bencana ekstrem seperti banjir bandang atau longsor besar-besaran akibat aktivitas logging. Mayoritas industri kayunya pun sudah tersertifikasi berkelanjutan. Intinya, mereka membuktikan eksploitasi bisa berjalan beriringan dengan prinsip kelestarian.
Lalu, bagaimana dengan kita?
Di sini, ceritanya agak berbeda. Begitu hutan gundul, yang sering kali kita tanam bukan bibit pohon, melainkan segudang alasan. Saat banjir bandang menerjang dan rakyat terseret arus, yang kita bangun seringkali adalah narasi. Yang tersisa bagi korban mungkin hanya foto-foto pejabat dengan rompi oranye, siap diunggah ke media sosial.
Ini ironi yang pahit. Negara lain fokus pada mitigasi ekologis. Kita, kadang, lebih sibuk dengan mitigasi reputasi. Mereka menutup lubang erosi. Kita sibuk menutup mulut yang kritis.
Dan ketika data menempatkan Indonesia di lima besar negara dengan kehilangan hutan tertinggi, jawabannya seringkali sudah bisa ditebak: “Itu karena curah hujan ekstrem.”
Seolah-olah hujan punya kaki dan gergaji, lalu diam-diam masuk ke hutan untuk menebang pohon.
Pada akhirnya, perbedaannya terletak pada apa yang kita tanam untuk masa depan. Negara lain menanam pohon untuk generasi mendatang. Kita? Terkadang, yang kita tanam hanyalah paragraf pembelaan untuk konferensi pers berikutnya. Mereka khawatir kehilangan ekosistem. Kita, seringkali, lebih takut kehilangan investor sawit dan tambang.
Inilah komedi tragedi ekologis yang mahal harganya. Tragis bagi rakyat yang merasakan dampaknya, lucu bagi segelintir elite yang abai, dan sungguh merusak bagi masa depan bangsa.
(Erizeli Jely Bandaro)
Artikel Terkait
Menkeu Yakin IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini Meski Sempat Ambruk Jadi yang Terburuk se-Asia
Bayi 5 Bulan Tewas dalam Kecelakaan di Manado, Pengemudi Ditetapkan Tersangka
Andi Taletting Langi Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua IKA Politik Unhas Periode 2026-2030
Dua Pelajar Tewas dalam Kecelakaan Maut di Perempatan Alun-Alun Purwodadi