“Yang selama ini menjadi korban kejahatan kemanusiaan Israel bukan hanya masjid, tetapi juga gereja-gereja,” tuturnya.
Ia menyebut serangan terhadap perkampungan kristiani di Tepi Barat oleh pemukim zionis. Bahkan, lanjut HNW, kekejian itu menyasar tempat ibadah yang sangat bernilai.
Gereja Keluarga Kudus, satu-satunya gereja Katolik di Gaza, diserang pada pertengahan Juli 2025. Serangan itu menewaskan jemaah dan melukai sang imam. Belum lagi hancurnya Gereja St Porphyrius di akhir 2023 gereja yang diyakini sebagai salah satu yang tertua di dunia.
“Bukan hanya menyerang fisik bangunan,” katanya, “ternyata zionis Israel juga menteror dan menyerang Pendeta dan Umat Kristiani yang beribadah di Sabtu Suci di Jerusalem pada 10/11/225.”
Karena itu, harapannya, pernyataan Paus bisa ditindaklanjuti dengan langkah konkret. Sudah lebih dari 150 negara mengakui kemerdekaan Palestina, dan mayoritasnya bukan negara Muslim. Kolaborasi dari berbagai kalangan, menurut HNW, kunci utamanya.
“Dengan sikap tegas dari Pimpinan Gereja Katolik se-Dunia ini, khususnya kalangan Kristiani bisa lebih efektif dalam berkolaborasi,” pungkasnya.
Kolaborasi itu, baik sesama Kristiani maupun dengan umat Islam dan Yahudi yang menolak genosida, diharapkan membuahkan hasil. Tujuannya jelas: perdamaian sejati dengan hadirnya Palestina yang merdeka dan berdaulat. Sebuah wujud nyata dari kemanusiaan yang adil dan beradab.
Artikel Terkait
Moving: Drama Superhero Korea yang Curi Perhatian dan Raih Daesang
Korban Penjambretan di Sleman Berbalik Jadi Tersangka Usai Kejar Pelaku
Dahlan Iskan Ungkap Kerugian Rp2 Triliun Akibat Guncangan Harga Batu Bara
Potret Pahit Pendidikan Indonesia: Skor TKA 2025 Buka Mata dan Jurang Antardaerah