Melihat situasi yang makin darurat, mereka pun menyampaikan sejumlah tuntutan tegas.
Pemerintah pusat harus segera menaikkan statusnya menjadi Darurat Bencana Nasional. Skala kerusakannya sudah jauh melampaui kapasitas daerah. Penanganan parsial harus dihentikan. Kerahkan semua sumber daya nasional logistik, tenaga medis, relawan untuk evakuasi dan bantuan yang terkoordinasi.
Tak cuma itu, mereka mendesak audit ekologis nasional yang independen. Audit ini harus menyoroti semua izin terkait deforestasi dan industri ekstraktif. Hasilnya wajib terbuka untuk publik.
“Tegakkan hukum secara menyeluruh kepada pihak yang terbukti memperburuk kerusakan lingkungan,” tegas mereka. Tidak boleh ada impunitas. Tidak boleh ada kompromi.
Dan yang tak kalah penting, harus ada rencana pemulihan ekologis jangka panjang untuk Sumatera. Pemulihan tak boleh cuma bersifat darurat, tapi harus menyentuh akar masalahnya.
Pada akhirnya, Paramasophia menegaskan bahwa persoalan ekologis ini adalah persoalan moral dan kemanusiaan. Bencana hari ini adalah buah dari pilihan kebijakan yang abai terhadap keberlanjutan.
Saat rakyat terdampak, negara tak boleh absen. Sikap setengah-hati di tengah kegagalan sistem adalah sebuah kezaliman. Ketika alam runtuh karena ulah manusia, tanggung jawab politik harus ditegakkan tanpa ragu.
Paramasophia Tegas pada Kebenaran, Berdiri untuk Keadilan.
Artikel Terkait
Anggota DPR Apresiasi Penundaan Pengiriman Pasukan Perdamaian ke Gaza
Lingkar Madani Kritik Keras Pengalihan Tahanan Yaqut ke Rumah oleh KPK
ICW Desak KPK Jelaskan Alasan Pengalihan Tahanan Yaqut ke Rumah
KPK Tegaskan Semua Tahanan Berhak Ajukan Tahanan Rumah, Termasuk Yaqut