Gugurnya Mahmoud Wadi, Jurnalis ke-257 yang Tewas dalam Serangan di Gaza

- Kamis, 04 Desember 2025 | 05:25 WIB
Gugurnya Mahmoud Wadi, Jurnalis ke-257 yang Tewas dalam Serangan di Gaza

Gaza Lagi-lagi, dunia jurnalisme berduka. Mahmoud Wadi, seorang jurnalis, menjadi korban terbaru serangan Israel di Jalur Gaza. Kabar duka ini disampaikan oleh Kantor Media Pemerintah Palestina, yang sekaligus mengumumkan angka yang membuat hati miris: 257 jurnalis telah gugur sejak agresi dimulai. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah bukti nyata dari sebuah upaya pembungkaman yang mencekik, sebuah kekerasan yang terus mengintai para pewarta di tengah kobaran konflik.

Menurut rilis dari Pusat Informasi Palestina pada Rabu (3/12/2025), kantor media tersebut bersikeras bahwa serangan terhadap jurnalis Palestina berlangsung sistematis. Sejak hari pertama perang, mereka seolah menjadi sasaran yang ditunjuk. Pernyataan resminya tegas, menyebut kejadian ini sebagai "pembunuhan yang disengaja" terhadap para jurnalis dan kru media.

Kecaman dan Seruan untuk Bertindak

Kantor Media Pemerintah Palestina tak tinggal diam. Mereka melayangkan kecaman keras. Di sisi lain, seruan mendesak ditujukan kepada Federasi Jurnalis Internasional, Federasi Jurnalis Arab, dan semua organisasi media global. Intinya: ambil sikap tegas sekarang juga.

Mereka menuding tanggung jawab penuh atas apa yang disebut "kejahatan terhadap jurnalis" ini berada di pundak Israel. Dukungan dari pemerintah Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis terhadap operasi militer juga tak lepas dari sorotan.

"Komunitas internasional harus bergerak," begitu kira-kira tekanannya. Lembaga pers dan organisasi HAM didesak untuk mendorong pertanggungjawaban para pelaku di hadapan pengadilan internasional. Yang dibutuhkan bukan sekadar pernyataan, melainkan tekanan nyata untuk menghentikan perang. Perlindungan bagi jurnalis di Gaza harus dijamin, dan penargetan langsung terhadap mereka harus diakhiri.

Data terbaru punya cerita lain yang tak kalah pilu. Sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober, tercatat 359 warga Palestina tewas. Mayoritas adalah kelompok rentan: anak-anak, perempuan, dan lansia. Sementara itu, 903 orang lainnya menderita luka-luka dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Dampak yang Tak Terperi

Konflik yang berawal dari 7 Oktober 2023 ini telah berubah wajah. Dengan dukungan AS dan sekutu Eropa-nya, pasukan Israel dituding telah melancarkan genosida terhadap Gaza. Istilah yang berat, namun digunakan untuk menggambarkan realitas yang terjadi: pembunuhan, kelaparan massal, rumah-rumah yang rata dengan tanah, pengusiran paksa, dan penangkapan sewenang-wenang. Semua ini berlangsung meski seruan dan perintah dari Mahkamah Internasional untuk berhenti terus bergema.

Dampaknya sungguh menghancurkan. Lebih dari 240.000 warga Palestina menjadi korban, tewas atau terluka. Sekali lagi, anak-anak dan perempuan mendominasi daftar korban. Nasib lebih dari 11.000 orang lainnya masih gelap, hilang tak tentu rimbanya. Ratusan ribu yang mengungsi bergulat dengan ancaman kelaparan yang mematikan, khususnya bagi anak-anak. Kerusakan infrastruktur begitu masif, seolah menghapus sebagian Gaza dari peta kehidupan yang layak.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar