Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menyebut banjir bandang yang terjadi sebagai bencana hidrometeorologi. Artinya, murni karena faktor alam. Tapi, pernyataan itu langsung dibantah keras oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut.
Mereka punya pandangan yang sangat berbeda.
“Kami menyangkal pernyataan Gubernur,” tegas Direktur WALHI Sumut, Rianda Purba, pada Senin (1/12/2025).
Menurutnya, pemicu utamanya bukanlah alam semata. “Yang jadi akar masalah adalah kerusakan hutan dan alih fungsi lahan. Ini sudah jelas, baik secara hukum maupun fakta di lapangan,” ujar Rianda.
Rianda kemudian membeberkan sejumlah titik yang mereka soroti. Kerusakan itu, klaimnya, dipicu oleh aktivitas tujuh perusahaan besar di wilayah Tapanuli. PLTA NSHE Batang Toru disebut, lalu ada tambang emas Martabe milik Agincourt yang dikatakan terus memperluas area sejak 2020. PT Toba Pulp Lestari (TPL) dengan skema kemitraan kayu eukaliptusnya juga tak luput dari sorotan. Belum lagi perkebunan sawit yang menggerus hutan alam.
Artikel Terkait
Gerakan Rakyat Resmi Berkibar Jadi Partai, Sahrin Hamid Pimpin Transformasi
Harapan dan Doa di Pondok Bambu untuk Yoga, Korban Hilang Pesawat Maros
Dari Tunanetra Jadi Terapis Andalan, Andry Buktikan Disabilitas Bukan Halangan Berkarya
Puisi: Arsip Sunyi yang Menyimpan Kekecewaan Publik