"Kalau enggak kerja mah ini, dari kemarin sama sekarang Rp 200.000 lebih hilang," katanya.
Masalahnya bertumpuk. Di sisi lain, kewajiban tetap menganga: bayar kontrakan Rp 500.000, listrik Rp 200.000, plus biaya sekolah anak. Pikirannya kalut memikirkan itu semua.
"Jadi ibu dari tadi merenung terus-terusan apalagi ini cuaca kayak gini takut terjadi lagi gitu," kesah Ema.
Prioritasnya sekarang sederhana sekaligus sulit: mencari uang untuk bertahan hari ini. "Biarin nanti aja beres-beres, cari duit dulu buat sehari-hari itu, buat makan, belum ada banget, belum ada bantuan," ucapnya.
Harapannya sekarang sederhana. Ia berharap ada bantuan, apapun bentuknya. Persediaan beras 10 kilogram yang baru dibelinya hilang terseret arus.
"Beras enggak ketolong. Baru beli dua keresek, beli 10 kilo," kenangnya.
"Ya pengin ada, dari donatur gitu. Minimal ngasih buat nyervis gitu, gak ngasih buat makan juga gitu. Kan berharap atuh neng bantuan. Saya yang kena dampaknya yang ngontrak," pungkas Ema, menatap ke arah rumahnya yang masih berantakan.
Artikel Terkait
Dua Aktivis Pati Bebas Bersyarat Usai Divonis 6 Bulan Penjara
Pemprov Sulsel Salurkan Bantuan untuk Korban Angin Puting Beliung di Takalar
Pengendara Motor Tewas Tabrak Truk yang Berhenti di Jalan Wates-Purworejo
Pemerintah Pastikan Kondisi Pekerja Migran Indonesia di Timur Tengah Masih Aman