Dari udara, pemandangan di Batang Toru terlihat suram. Sebuah desa yang dilanda banjir bandang dan longsor di Tapanuli Selatan itu tampak compang-camping, seperti baru saja dihajar amukan alam. Kejadian ini berlangsung sejak Senin lalu, 24 November.
Menurut laporan Antara, bencana ini bukan sekadar musibah biasa. Ia seperti sebuah peringatan keras. Kawasan hulu yang seharusnya menjadi benteng alami, ternyata sudah sangat rapuh. Ekologinya tak lagi sanggup menahan gempuran cuaca ekstrem yang datang bertubi-tubi.
Lalu, apa penyebabnya? Banyak yang menyoroti menurunnya fungsi hutan sebagai pelindung. Aktivitas pembukaan lahan dan penebangan kayu secara besar-besaran diduga menjadi biang keladinya. Perlahan tapi pasti, kawasan itu kehilangan kekuatannya.
Desa-desa seperti Huta Godang, Anggoli, Bulu Mario, dan Aek Batang Paya adalah yang paling menderita. Di sanalah dampaknya terasa paling parah.
Data dari BNPB sungguh memilukan. Di Tapanuli Selatan saja, korban meninggal mencapai 79 jiwa. Sementara 38 orang lainnya masih dinyatakan hilang, entah di mana.
Angkanya bahkan lebih besar jika melihat keseluruhan Sumatera Utara. Korban tewas tercatat 293 jiwa. Dan masih ada 154 jiwa yang belum ditemukan, meninggalkan duka dan tanda tanya yang dalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Artikel Terkait
Emir Qatar Puji Kepemimpinan Prabowo dan Program Makan Bergizi Gratis, Konfirmasi Kunjungan ke Akhir 2026
Pemerintah Klaim Kepercayaan Investor Global Meningkat, Obligasi Danantara Diserap Pasar AS-Eropa-Asia
Danantara Raup 1,5 Miliar Dolar AS dari Obligasi Global Perdana, Permintaan Investor Tembus 4,6 Miliar Dolar
Mahasiswa dan Aparat Saling Dorong di Depan DPRD Sultra saat Tolak Kenaikan BBM dan Kritik Program Makan Bergizi Gratis