Dari udara, pemandangan di Batang Toru terlihat suram. Sebuah desa yang dilanda banjir bandang dan longsor di Tapanuli Selatan itu tampak compang-camping, seperti baru saja dihajar amukan alam. Kejadian ini berlangsung sejak Senin lalu, 24 November.
Menurut laporan Antara, bencana ini bukan sekadar musibah biasa. Ia seperti sebuah peringatan keras. Kawasan hulu yang seharusnya menjadi benteng alami, ternyata sudah sangat rapuh. Ekologinya tak lagi sanggup menahan gempuran cuaca ekstrem yang datang bertubi-tubi.
Lalu, apa penyebabnya? Banyak yang menyoroti menurunnya fungsi hutan sebagai pelindung. Aktivitas pembukaan lahan dan penebangan kayu secara besar-besaran diduga menjadi biang keladinya. Perlahan tapi pasti, kawasan itu kehilangan kekuatannya.
Artikel Terkait
Kelme Luncurkan Jersey Timnas Indonesia dengan Teknologi Jacquard dan Emblem Silikon 3D
IHSG Melemah 0,37%, Analis Soroti Potensi Koreksi dan Peluang Penguatan
BSI Gelar Festival Ramadan di Makassar, Tawarkan Diskon Umrah hingga DP 0% Kendaraan
IJTI Peringatkan Perjanjian Dagang RI-AS Ancam Media Nasional