Dari udara, pemandangan di Batang Toru terlihat suram. Sebuah desa yang dilanda banjir bandang dan longsor di Tapanuli Selatan itu tampak compang-camping, seperti baru saja dihajar amukan alam. Kejadian ini berlangsung sejak Senin lalu, 24 November.
Menurut laporan Antara, bencana ini bukan sekadar musibah biasa. Ia seperti sebuah peringatan keras. Kawasan hulu yang seharusnya menjadi benteng alami, ternyata sudah sangat rapuh. Ekologinya tak lagi sanggup menahan gempuran cuaca ekstrem yang datang bertubi-tubi.
Lalu, apa penyebabnya? Banyak yang menyoroti menurunnya fungsi hutan sebagai pelindung. Aktivitas pembukaan lahan dan penebangan kayu secara besar-besaran diduga menjadi biang keladinya. Perlahan tapi pasti, kawasan itu kehilangan kekuatannya.
Desa-desa seperti Huta Godang, Anggoli, Bulu Mario, dan Aek Batang Paya adalah yang paling menderita. Di sanalah dampaknya terasa paling parah.
Data dari BNPB sungguh memilukan. Di Tapanuli Selatan saja, korban meninggal mencapai 79 jiwa. Sementara 38 orang lainnya masih dinyatakan hilang, entah di mana.
Angkanya bahkan lebih besar jika melihat keseluruhan Sumatera Utara. Korban tewas tercatat 293 jiwa. Dan masih ada 154 jiwa yang belum ditemukan, meninggalkan duka dan tanda tanya yang dalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Artikel Terkait
774 Pelanggaran Disiplin Terjadi di Kemenimipas, Bolos Kerja Mendominasi hingga 42 Pegawai Dipecat
Mentan Amran: Capaian Pangan Nasional Tak Lepas dari Peran TNI, Stok Beras Capai Rekor 5,12 Juta Ton
KPK Soroti 27.969 Bidang Tanah di Sulsel Belum Bersertifikat, Rawan Konflik dan Korupsi
Warkop Dg Anas: Meja Kopi Sederhana yang Menjadi Titik Temu Para Legenda Makassar