Ujung-Ujungnya ke Dapur: Stereotip yang Masih Mengakar dalam Percakapan Sehari-hari

- Senin, 01 Desember 2025 | 17:06 WIB
Ujung-Ujungnya ke Dapur: Stereotip yang Masih Mengakar dalam Percakapan Sehari-hari

"Ah, perempuan kan ujung-ujungnya kembali ke dapur juga."

Kalimat itu melayang di tengah obrolan keluarga, dikira canda. Suasana langsung berubah. Ada yang cuma bisa cekikikan, ada yang diam seribu bahasa. Beberapa wajah tampak tak enak, tapi sepertinya tak ada yang berani membantah. Cuma satu kalimat, tapi dampaknya terasa sekali.

Fenomena serupa ternyata merajalela di dunia digital. Coba lihat saja, setiap kali ada perempuan yang menonjol atau menduduki posisi penting, pasti muncul komentar-komentar merendahkan. Seolah-olah, apapun pencapaiannya, perempuan harus selalu diuji dan dibandingkan dengan standar laki-laki. Padahal, perjuangan untuk kesetaraan gender sudah berlangsung puluhan tahun. Namun begitu, stereotip dan bias lama ternyata masih bersembunyi nyaman dalam percakapan kita sehari-hari.

Menurut sejumlah ahli sosiologi, ketimpangan ini bisa dijelaskan lewat teori gender sebagai konstruksi sosial. Sosiolog feminis Ann Oakley, misalnya, punya pandangan menarik.

Ia berpendapat bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan sebenarnya bukan ditentukan oleh kemampuan biologis semata. Justru, proses sosial-lah yang membentuk dan menetapkan apa yang "seharusnya" dilakukan oleh masing-masing gender.

Nah, masalahnya muncul ketika konstruksi yang bias ini mengeras. Ia tak lagi dilihat sebagai norma sosial, melainkan dianggap sebagai kebenaran mutlak yang tak terbantahkan.

Akibatnya, ruang publik yang seharusnya menjadi tempat menilai ide dan kompetensi, malah berubah jadi ajang mempertahankan stereotip. Perempuan sering dihakimi berdasarkan jenis kelaminnya, bukan dari pekerjaan atau pemikirannya. Di situasi seperti ini, saat gender diutamakan daripada kualitas, kesetaraan pun lenyap begitu saja dari percakapan.

Lantas, bagaimana mencapainya? Tentu bukan cuma lewat slogan atau peringatan Hari Perempuan yang seremonial. Diperlukan perubahan perspektif yang mendasar. Stereotip harus dibongkar, dan kita semua perlu paham bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya. Selama bias-bias ini masih hidup dan dipelihara dalam masyarakat, kesetaraan gender akan tetap jadi impian yang jauh dari kenyataan.

Sebagai mahasiswa, saya sering menyaksikan bias ini muncul di lingkungan yang katanya egaliter sekalipun. Pernah dalam kerja kelompok, pendapat saya diabaikan dengan alasan saya "terlalu emosional".

Yang lucu, ketika rekan laki-laki saya menyampaikan kritik serupa, dia justru dipuji karena dianggap kritis.

Pengalaman itu mengajarkan saya sesuatu. Perjuangan untuk kesetaraan tidak selalu butuh peraturan besar atau kampanye megah. Kadang, ia dimulai dari keberanian kecil untuk menantang stereotip dalam keseharian. Menyanggah dengan tegas, tapi tetap tenang dan menghargai.

Ini bukan soal menang atau kalah. Bukan pula perlombaan antara laki-laki dan perempuan. Intinya sederhana: memberi ruang bagi setiap orang untuk berkembang, tanpa dibatasi label gender. Perbedaan pengalaman kita seharusnya jadi alasan untuk saling memahami, bukan untuk saling menjatuhkan.

Pertanyaannya, mau dibawa ke mana? Apakah perbedaan ini akan kita jadikan tembok pembatas, atau justru jembatan untuk saling mengenal? Kalau menurut saya, selama kita masih membiarkan stereotip mengotori cara pandang kita, mustahil bisa membangun masyarakat yang lebih baik.

Pada akhirnya, perjuangan untuk kesetaraan adalah soal keberanian. Keberanian mengakui bahwa dunia bisa jadi lebih adil, jika kita mau memperlakukan satu sama lain dengan adil. Memang, realitas yang ada kadang membuat kita lelah. Tapi selama masih ada yang mau berusaha, perubahan itu selalu mungkin.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar