Di tengah hiruk-pikuk pameran industri di Hanover, suara kritis Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menggema. Ia tak sungkan menyasar lembaga dunia yang paling bergengsi: Perserikatan Bangna-Bangsa. Menurut Lula, PBB dinilainya gagal total dalam menghentikan berbagai konflik yang saat ini melanda dunia.
"Dunia sedang mengalami jumlah konflik tertinggi dalam sejarahnya sejak Perang Dunia Kedua," ujarnya, Minggu waktu setempat.
Suasana di hall pertemuan itu langsung terasa tegang. Lula tak berhenti di situ. Ia secara spesifik menantang para pemimpin negara-negara besar yang punya kursi di Dewan Keamanan PBB.
"Kita harus bertanya kepada Presiden (AS) Trump, Presiden (Rusia) Putin, Presiden (Tiongkok) Xi Jinping, Presiden (Prancis) Macron, dan Perdana Menteri Inggris: untuk apa Dewan Keamanan? Mengapa Anda tidak bertemu dan menghentikan perang-perang ini?" desak Lula, seperti dikutip dari laporan media.
Pertanyaannya itu, sederhana saja, tapi menusuk. Ia merasa badan dunia itu seperti kehilangan taringnya.
Di sisi lain, Lula juga mendesak reformasi mendesak untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Ia bilang, WTO saat ini "lumpuh" dan harus segera dibenahi agar bisa benar-benar mewakili kepentingan negara-negara Global Selatan. Keadilan dalam sistem multilateral, katanya, adalah kunci. Tanpa itu, semua jadi tidak relevan.
Kelaparan dan Krisis Global
Masalahnya nggak cuma perang. Lula kemudian bicara soal ketimpangan global yang menurutnya miris. Ia geram melihat anggaran militer membengkak di sana-sini, sementara isu dasar seperti kelaparan, buta huruf, dan akses air bersih masih jadi mimpi buruk di banyak tempat.
"Tidak mungkin, di abad ke-21 ini, ketika kita belum menyelesaikan masalah kelaparan, kita malah menghabiskan uang untuk perang dan tidak ada yang bisa mengakhiri kelaparan di planet ini," sesalnya. Suaranya terdengar berat, penuh kekecewaan.
Ia lalu menyinggung krisis energi global yang memanas karena situasi di Selat Hormuz. Namun begitu, Lula mengklaim Brasil termasuk yang paling tahan banting. Dampaknya minimal. Alasannya, pemerintah sudah antisipasi dari jauh hari, plus fakta bahwa Brasil sekarang cuma impor 30 persen dari total kebutuhan minyaknya. Mereka cukup mandiri.
Pernyataan pedas ini ia sampaikan berdua dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz, dalam acara gala pembukaan pameran. Momen itu menjadi puncak dari kunjungan kenegaraannya yang singkat, hanya dua hari, di Jerman. Sebuah pesan yang jelas: tatanan dunia saat ini, bagi Lula, sudah harus dirombak.
Artikel Terkait
Polisi Ungkap Motif Balas Dendam di Balik Penusukan Ketua Golkar Maluku Tenggara
Pengadilan Tolak Praperadilan Hakim Tersangka Suap Lahan
Mendagri Ingatkan Urbanisasi Liar Ancam Stabilitas Kota
Lapas Gunung Sindur Tegaskan Komitmen Zero Halinar, Musnahkan 55 HP Ilegal