Paus Leo XIV Tiba di Beirut, Serukan Perdamaian di Tengah Ketegangan

- Senin, 01 Desember 2025 | 16:36 WIB
Paus Leo XIV Tiba di Beirut, Serukan Perdamaian di Tengah Ketegangan

Kerumunan sudah menunggu sejak pagi. Di sepanjang jalan dari bandara menuju istana kepresidenan Beirut, orang-orang berjejal, berharap sekadar melihat sekilas sang tamu agung. Bendera Lebanon dan Vatikan berkibar berdampingan, menghiasi sudut-sudut kota yang masih menyimpan luka perang. Di antara riuh rendah itu, Paus Leo XIV tiba, membawa pesan yang mendesak bagi sebuah bangsa yang letih.

Ini adalah lawatan luar negeri pertamanya sebagai pemimpin Gereja Katolik, dan Lebanon dipilih sebagai tujuan kedua. Rencananya, Paus asal Amerika Serikat ini akan menghabiskan empat hari di tanah para nabi, dimulai Minggu (30/11). Langkah pertamanya: langsung menuju istana kepresidenan untuk bertemu dengan para politisi dan pemuka agama.

Di hadapan para pemimpin Lebanon, suaranya lantang namun penuh beban. Ia membuka pidatonya dengan mengutip sabda Yesus Kristus, sebuah seruan yang terasa sangat relevan di tengah dentuman yang masih sesekali menggema.

“Berbahagialah orang yang membawa damai,” ucap Paus Leo.

“Negara ini harus terus berjuang untuk perdamaian,” sambungnya, menekankan pentingnya prioritas tersebut meski situasi regional begitu pelik, penuh konflik, dan sama sekali tidak bisa ditebak. Desakannya jelas: jadikan perdamaian sebagai hal utama.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Keamanan Lebanon memang sedang di ujung tanduk, terdampak langsung oleh perang di Gaza. Sejak konflik Gaza berkecamuk, milisi Hizbullah terlibat baku tembak dengan Israel sebagai bentuk solidaritas. Puncaknya di tahun 2024, serangan udara besar-besaran Israel menghancurkan sejumlah wilayah dan menewaskan 2.720 orang.

Memang sempat ada jeda. Sebuah kesepakatan damai diteken, meredakan perang antara Israel dan Hizbullah untuk sementara waktu. Namun begitu, gencatan senjata itu rapuh. Israel masih melancarkan serangan, dengan dalih mencegah Hizbullah membangun kekuatan baru. Situasinya tetap genting.

Di sisi lain, kehadiran Paus disambut hangat oleh berbagai pihak, termasuk dari kalangan yang selama ini berhadapan dengan Israel. Naim Qassem, Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah, menyambut positif lawatan ini.

Ia berharap kunjungan Paus Leo XIV bisa mendorong Israel menghentikan agresinya di Lebanon.

Harapan itu mungkin terasa berat dibebankan pada satu kunjungan. Tapi bagi Lebanon, negara dengan populasi Kristen terbesar di Timur Tengah yang kebetulan dipimpin oleh seorang Presiden beragama Kristen, Joseph Aoun kehadiran pemimpin spiritual tertinggi Katolik ini adalah simbol. Sebuah cahaya, sekecil apa pun, di tengah ketidakpastian yang berkepanjangan. Spanduk-spanduk bergambar wajahnya yang terpampang di Beirut bukan sekadar dekorasi, melainkan cermin dari sebuah kerinduan akan kedamaian yang nyata.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar