Intinya, Leo sedang berbicara tentang solusi dua negara. Gagasan lama tentang Palestina dan Israel hidup berdampingan secara damai sebagai dua entitas yang berdaulat. Namun begitu, ide ini seperti mentok di tembok yang sama. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, misalnya, sudah berkali-kali menolaknya. Penolakan itu terus ia suarakan, bahkan saat sekutu terdekat Israel, Amerika Serikat, mulai menunjukkan sinyal dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
Sebelumnya, Paus Leo memang lebih dikenal dengan bahasa-bahasa yang sangat diplomatis ketika membahas konflik ini. Tapi belakangan, ada pergeseran yang cukup terasa. Kritiknya terhadap operasi militer Israel di Gaza mengeras, terutama menyusul laporan-laporan korban jiwa yang terus membengkak konon telah menewaskan lebih dari 70 ribu warga setempat.
Perubahan nada itu mungkin mencerminkan keprihatinan yang semakin mendalam. Atau, sebuah upaya untuk mendorong solusi yang ia yakini tak bisa lagi ditunda.
Artikel Terkait
Ijazah Lawas 1985 Jadi Saksi Bisu di Sidang Gugatan Jokowi
Warga Kanada Tewas dalam Kerusuhan Iran, Ottawa Kecam dan Imbau Warganya Segera Tinggalkan Negeri
Anjir Jadi Bumbu Wajib: Ketika Makian Kehilangan Taring di Mulut Kaum Muda
Kemenangan Publik: Ijazah Jokowi Tak Lagi Jadi Dokumen Rahasia