Korban Tewas Serangan AS-Israel di Iran Tembus 787 Jiwa, Konflik Meluas ke Lebanon

- Selasa, 03 Maret 2026 | 20:15 WIB
Korban Tewas Serangan AS-Israel di Iran Tembus 787 Jiwa, Konflik Meluas ke Lebanon

Teheran – Konflik yang melanda kawasan ini sudah memasuki hari keempat. Dan kabar buruknya, korban jiwa terus berjatuhan. Menurut data terbaru dari Iranian Red Crescent Society atau Bulan Sabit Merah Iran, sedikitnya 787 orang telah meninggal dunia akibat rangkaian serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.

Angka itu melonjak drastis dari laporan sebelumnya. Cuma dalam dua hari, jumlah korban tewas bertambah 550 orang. Padahal, data awal yang dirilis lembaga kemanusiaan itu ‘hanya’ mencatat 201 kematian dan 747 orang luka-luka.

Rupanya, serangan yang terjadi begitu masif. Bulan Sabit Merah Iran menyatakan sedikitnya 1.039 serangan telah mengguncang berbagai wilayah. Dampaknya menyebar ke 153 county atau wilayah administratif di negara itu. Situasinya benar-benar meluas.

Di antara ratusan korban sipil, ada pula puluhan personel militer yang gugur. Tiga belas tentara Iran tewas saat sebuah pangkalan militer di Provinsi Kerman, selatan Iran, dihujani serangan udara gabungan. Sementara itu, di Kota Jam dan Dir, Provinsi Bushehr, lima personel angkatan udara dan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga dilaporkan meninggal.

Eskalasi ternyata tidak hanya terjadi di Iran. Front konflik baru terbuka di Lebanon. Israel disebut melanjutkan serangannya ke ibu kota Beirut selama dua hari berturut-turut.

Menanggapi situasi yang semakin panas, juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, menyatakan bahwa penempatan pasukan tambahan di perbatasan telah dilakukan.

“Langkah ini untuk melindungi warga sipil dan mencegah serangan dari Hizbullah,” ujarnya.

Namun begitu, Hizbullah tak tinggal diam. Kelompok tersebut dilaporkan membalas dengan melancarkan serangan terhadap sebuah pangkalan udara di wilayah utara Israel.

Dengan korban yang terus membengkak dan wilayah terdampak kian meluas, situasi di Timur Tengah ini jelas semakin memanas. Belum ada tanda-tanda deeskalasi di mana pun. Angka 787 nyawa yang melayang itu bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata betapa dahsyatnya konflik ini. Dan untuk sekarang, belum terlihat ujungnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar