Suasana di tubuh PBNU masih tegang. Gus Imron, Wakil Sekretaris Jenderal, dengan nada prihatin menyoroti sikap Ketua Umum, Gus Yahya, yang dinilainya tak kunjung menunjukkan keseriusan untuk berdamai. Menurutnya, islah atau perdamaian itu cuma wacana belaka, tanpa tindak lanjut nyata.
"Fakta di lapangan bicara sendiri," ujar Gus Imron kepada wartawan, Jumat (9/1/2026).
"Kerangka islah? Tidak ada. Tahapan dan "time line" jelas? Juga tidak. Kerja bareng untuk merajut kembali persatuan? Nihil. Dari sini publik bisa menilai, ada kesan kuat bahwa waktu sengaja diulur-ulur. Iktikad untuk benar-benar berislah sepertinya tidak ada."
Di sisi lain, Gus Imron menegaskan bahwa jalan menuju rekonsiliasi sebenarnya sudah terbentang. Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, konon telah menyiapkan rute konstitusional yang jelas: mulai dari rapat pleno, lalu berlanjut ke Konferensi Besar dan Musyawarah Nasional, sebelum akhirnya bermuara di Muktamar.
"Rutenya sudah jelas. Tapi sayangnya, sampai detik ini tidak ada langkah konkret dari Gus Yahya untuk menapaki jalan yang sudah dibuka itu," katanya.
Yang semakin memperkeruh keadaan adalah sebuah momen usai pertemuan di kediaman Rais Aam, akhir Desember lalu. Pertemuan yang diharapkan menjadi pelebur es justru diikuti langkah yang mengejutkan. Dua hari kemudian, Gus Yahya memperkenalkan Amin Said Husni sebagai Sekjen PBNU di ruang publik.
Artikel Terkait
Patung Liberty Tersembunyi di Tangerang, Ternyata Bakal Jadi Cetakan
Invasi AS ke Venezuela 2026: Katalis Kekacauan Global yang Tak Terhindarkan
Eddy Soeparno Desak 2026 Jadi Tahun Mitigasi Krisis Iklim
Utang Rp 300 Ribu Berujung Maut, Pria di Depok Ditusuk Saat Tidur