Bagi Gus Imron, langkah itu seperti tamparan. "Ini sinyal yang sangat kuat, bahwa islah bukanlah keinginan serius," ujarnya.
Langkah tersebut dinilai bukan cuma memicu ketidaknyamanan, tapi juga mengukuhkan persepsi buruk: bahwa proses perdamaian sengaja digantung untuk alasan-alasan tertentu. Padahal, waktu bagi NU sangatlah berharga.
Organisasi yang telah berusia seabad ini sedang berada di ambang momentum besar. Peringatan satu abad NU versi Masehi pada 31 Januari 2026 sudah di depan mata. Agenda Munas dan Konbes pun harus segera dipersiapkan dengan matang.
"Waktunya mepet sekali," sambung Gus Imron. "Tapi semua agenda besar itu mandek, terhambat oleh islah yang tak kunjung bergerak dari tempatnya."
Dia mengingatkan, jika kebuntuan ini terus dibiarkan, Rais Aam mungkin tak punya pilihan lain. Keputusan-keputusan strategis harus diambil untuk menjaga marwah "jam'iyah" dan memastikan NU tetap bisa melangkah ke depan.
"Kalau rute damai diabaikan dan waktu hanya dibiarkan berlalu, jangan salahkan pihak lain bila kemudian diambil keputusan yang tegas. Semua itu konsekuensi logis dari kebuntuan yang dipelihara," pungkas Gus Imron menegaskan.
Artikel Terkait
Anggaran dan Kualitas Menu Makanan Bergizi Gratis Ramadan Dipertanyakan, BGN Beri Penjelasan
Serangan Udara Myanmar Tewaskan Belasan Warga Sipil di Pasar Rakhine
Program Makan Bergizi di Purworejo Tetap Berjalan Lancar Selama Ramadan
Bamsoet Dorong Bantuan Pangan Siap Saji untuk Percepat Tanggap Darurat Bencana