Suasana Pondok Pesantren Al-Falah di Ploso, Kediri, pada hari Minggu itu terasa berbeda. Para kiai sepuh Nahdlatul Ulama berkumpul, membicarakan satu hal yang sedang menggelisahkan: dinamika konflik di tubuh PBNU.
Pertemuan ini dihadiri oleh sederet nama besar. Ada KH Anwar Manshur dari Lirboyo, KH Nurul Huda Djazuli dari Ploso, dan KH Abdullah Kafabihi Mahrus, juga dari Lirboyo. Tak ketinggalan, KH Ma'ruf Amin dan KH Said Aqil Siroj turut hadir, meski lewat sambungan Zoom. Beberapa kiai lain seperti KH Abdul Hannan Ma’shum (Kwagean), KH Kholil As’ad (Situbondo), KH Ubaidillah Shodaqoh, KH Umar Wahid, dan KH Abdulloh Ubab Maimoen juga menyertai, baik langsung maupun virtual.
Menurut Gus Muid, atau KH Abdul Muid Shohib, para sesepuh itu memendam rasa prihatin yang mendalam. Mereka melihat kondisi di PBNU dan berharap ada jalan keluar terbaik. Islah, atau perbaikan diri, menjadi harapan bersama.
“Forum Sesepuh Nahdlatul Ulama menyerukan kepada para pihak di PBNU yang sedang berkonflik agar bisa menahan diri, menghentikan pernyataan-pernyataan di media,” jelas Gus Muid dalam keterangan persnya di Kediri, Minggu itu.
Ia menegaskan, apalagi jika pernyataan itu berpotensi membuka aib dan merusak marwah organisasi.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Gelar Silaturahmi Kebangsaan dengan Mantan Kepala Negara dan Ketua Parpol
Wabup Bone Pimpin Rapat TPID, Fokuskan Pengawasan Harga Sembako Jelang Ramadhan
Kemendagri Tinjau Ulang Rekrutmen Kepala Daerah Usai OTT Bupati Pekalongan
Anggota DPR Desak Pemerintah Tinjau Ulang Keterlibatan Indonesia di Board of Peace